Eggi Sebut Jokowi Masuk Golongan Munafik, UAS Kufur Nikmat

    Metrobatam, Jakarta – Aktivis 212 Eggi Sudjana menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) munafik. Eggi menganggap Jokowi berbohong dan ingkar janji. Sedangkan Ustaz Abdul Somad (UAS) yang menolak maju menjadi Cawapres disebut kufur nikmat.

    “Sekarang kan susah sesama muslim, makanya identitasnya harus jelas ulama dan munafik dan ini, kita golongkan Jokowi ke munafik. Munafik itu kan kalau ngomong bohong, janji nggak ditepati, khianat,” ujar Eggi saat diskusi ‘Ijtimak Ulama: Politik Agama atau Politisasi Agama?’ di D’Hotel, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (8/8/2018).

    Eggi mengungkit janji-janji Jokowi yang tidak ditepati. Eggi lantas menyinggung divestasi saham PT Freeport.

    “Bayangkan, ada 66 janji yang tidak ditepati. Janjinya beli lagi Indosat, tapi malah yang dibeli Freeport. Kalau saya sebagai advokat, ini sengaja nggak dibeli lagi karena kalau dibeli akan ketahuan kenapa Indosat dijual murah,” ujar Eggi.

    Eggi pun berencana mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) besok (9/8). Ia ingin KPK menangkap Jokowi dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

    “Saya besok kalau jadi saya akan datang ke KPK saya supaya tangkap Jokowi, Jaksa Agung ini,” tutupnya.

    Sementara terkait Ustaz Abdul Somad (UAS) yang menolak maju Pilpres 2019 dan memilih tetap di jalan dakwah, politikus PAN ini menyebut UAS kufur nikmat jika menolak jadi cawapres.

    “UAS kalau nolak (jadi cawapres) kufur nikmat. Dia ingin tetap berdakwah itu bagus, tapi efektif mana kalau dia wapres terus dakwah efektif mana? Daripada sekarang dakwah dipersekusi di mana-mana? Kalau jadi cawapres, siapa yang berani persekusi,” kata Eggi saat diskusi ‘Ijtimak Ulama: Politik Agama atau Politisasi Agama?’ di D’Hotel, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (8/8).

    UAS diketahui masuk bursa cawapres bagi Prabowo Subianto. Dia menilai penolakan UAS itu dilakukan dengan cara baik.

    “Saya akui dia menolaknya dengan bagus, tapi kalau menolak dalam konteks jihad, ini tentu kufur nikmat,” tutur dia.

    Diketahui, UAS menolak maju Pilpres 2019. Kepada jemaah, UAS mengatakan, di Pemilu 2019, rakyat akan memilih dari anggota DPRD hingga capres-cawapres. Umat Islam, kata Somad, harus peduli terhadap politik.

    “Oo… terbaca-terbaca ternyata Ustaz Somad ini ujung-ujungnya kampanye. Saya tak kampanye aja udah dipilih orang,” seloroh UAS dalam ceramahnya yang dikutip detikcom, Rabu (8/8). Jemaah merespons dengan tertawa.

    “Saya sampai mati jadi ustaz. Tak usah ragu, tak usah takut. Pegang cakap saya. Manusia yang dipegang cakapnya, binatang yang dipegang talinya. Kalau ada manusia tak bisa dipegang cakapnya, ikat dia pakai tali,” sambungnya.

    Parpol Tak Wajib Ikuti Ijtimak Ulama

    Ketum Presidium Alumni 212 Aminuddin mengaku kecewa terhadap hasil rekomendasi nama capres dan cawapres Ijtimak Ulama. Menurutnya, partai politik juga tidak mesti mengikuti hasil Ijtimak Ulama itu.

    “Saya kecewa sedikit sama hasil Ijtimak kemarin, misalnya bulan Mei lalu kan ada Rakornas PA 212, di situ rekomendasikan capres dan cawapres. Nah yang saya sesalkannya kenapa di Ijtimak Peninsula kemarin kenapa nggak perkuat Rakornas 212? Padahal ulama-ulama yang datang itu-itu saja,” kata Aminuddin dalam diskusi publik yang bertajuk ‘Ijtimak Ulama, Politik Agama atau Politisasi Agama?’ di D’Hotel, Jl. Sultan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (8/8).

    Amin juga menyinggung ketika Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra berorasi di depan para alim ulama saat Ijtimak Ulama di Peninsula. Menurutnya, saat itu Yusril memiliki kriteria pas untuk menjadi capres tapi tidak direkomendasikan.

    “Kedua, ada tokoh hebat di Peninsula, yaitu Yusril Ihza Mahendra, itu luar biasa mengalahkan ketum parpol lain. Dari sisi hukum, sejarah, itu dijelaskan lugas. Beliau itu dijadikan capres di Rakornas 212, kenapa di Peninsula nama beliau hilang?” tuturnya.

    Karena itu, menurutnya, wajar jika Ijtimak Ulama GNPF-U dinilai sebagai pesanan partai politik. Sebab, keputusan yang dikeluarkan dianggap tidak sinkron.

    “Sehingga jangan heran ada pertanyaan masyarakat mengenai GNPF Ulama ini pesanan siapa? Karena ulamanya itu-itu saja tapi kok putusannya tidak sinkron? Jadi ini siapa di balik apa, gitu kan,” tutur dia.

    Dia menyarankan partai politik tidak usah merasa terdikte oleh rekomendasi Ijtimak Ulama. Amin menilai rekomendasi Ijtimak Ulama itu tidak wajib diikuti parpol.

    “Karena itu kan sifatnya rekomendasi, parpol juga punya prosesnya masing-masing. Jadi rekomendasi parpol tidak wajib untuk diikuti, karena parpol punya keputusan sendiri. Rekomendasi kan sifatnya rekomendasi, namanya juga rekomendasi,” jelas Aminuddin. (mb/detik)

    Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    BERITA TERKINI

    Peneliti LIPI: Gempa Lombok 6,9 SR Berasal dari Segmen Timur

    Metrobatam, Jakarta – Rentetan gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menimbulkan banyak korban jiwa. Pada Minggu 19 Agustus 2019, gempa...

    Trump: Solusi Satu Negara Lahirkan PM Israel Bernama Mohammad

    Metrobatam, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menyatakan kepada Raja Yordania, Raja Abdullah bahwa solusi satu negara dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina bisa...

    Nagih Utang ke Saudara, Penarik Bentor Malah Tewas Ditusuk

    Metrobatam, Makassar - Seorang penarik becak motor (bentor) bernama Azis Duma alias Cama (56) di Makassar ditemukan tergeletak bersimbah darah di Jalan Sinasara Kelurahan...

    Diwarnai Aksi Kejar-kejaran, Polisi Tangkap Pengedar dan Sita Sabu 5 Kg

    Metrobatam, Jambi – Aksi kejar-kejaran antara petugas Ditresnarkoba Polda Jambi dengan pengedar narkoba di Simpang 35, Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi, Jambi,...

    Mendikbud: Indonesia Raya Lirik dan Aransemennya Tak Boleh Diubah

    Metrobatam, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai Lagu Indonesia Raya tak boleh diubah. Menurutnya, pengubahan tak boleh dilakukan baik untuk...

    Jokowi Hadiahi Joni Sepeda dan Rumah, Bonus Main ke Dufan dan TMII

    Metrobatam, Jakarta - Yohanes Ande Kala alias Joni yang memanjat tiang bendera saat upacara HUT ke-73 RI di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT)...

    Vaksin MR Bisa Dipakai Meski Haram, MUI: Fleksibilitas Hukum Islam

    Metrobatam, Jakarta - MUI mengizinkan penggunaan vaksin imunisasi campak (measles) dan rubella (MR) dari Serum Institute of India (SII) meski mengandung babi. Izin tersebut...

    Dorong Ekspor dan Perekonomian Nasional, OJK Terbitkan Paket Kebijakan

    Metrobatam, Jakarta - Demi terus mendorong ekspor dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan paket kebijakan Otoritas Jasa Keuangan Agustus 2018. Ketua Dewan Komisioner...

    Tolak Genjatan Senjata, Taliban Sandera 200 Penumpang Bus Afghanistan

    Metrobatam, Jakarta - Taliban menolak tawaran gencatan senjata dari pemerintah Afghanistan dan tetap melakukan serangan. Gerilyawan Taliban menyergap tiga bus dengan hampir 200 penumpang...

    Asian Games 2018: Kalahkan Hong Kong 3 – 1, Indonesia Juara Grup

    Metrobatam, Jakarta - Tim nasional Indonesia U-23 memastikan lolos sebagai juara Grup A sepakbola Asian Games 2018. 'Garuda Muda' menang 3-1 atas Hong Kong...

    Anggota DPRD Langkat F-NasDem Jadi Tersangka Kasus Sabu 3 Karung

    Metrobatam, Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menetapkan anggota Fraksi NasDem DPRD Langkat Ibrahim Hasan bersama enam orang lain sebagai tersangka kepemilikan narkotika. Mereka...

    Sri Mulyani Beberkan Alasan Pemerintah Setop Impor 500 Komoditas

    Metrobatam, Jakarta - Pemerintah akan menghentikan impor 500 komoditas. Tujuannya untuk menjaga transaksi berjalan tak makin defisit. Sebelumnya Bank Indonesia (BI) merilis data defisit neraca...
    BAGIKAN