Gubernur Bengkulu Marah Anak Buah Tak ‘Kawal’ Proyek Pesanan

6346

Metrobatam.com, Jakarta – Gubernur Bengkulu nonaktif Ridwan Mukti geram dengan Pelaksana tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kuntadi serta jajarannya dalam ‘mengawal’ sejumlah proyek infrastruktur di Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Ridwan marah lantaran instruksi tentang proyek di Dinas PUPR agar diberikan ke perusahaan yang sudah ditentukannya, tak dilaksanakan dengan baik oleh Kuntadi.

Hal tersebut tertuang tertuang dalam surat dakwaan Ridwan yang telah dibacakan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu, Kamis (12/10).

Ridwan bersama istrinya Lily Martiani Maddari dan Jhoni Wijaya selaku Kepala Perwakilan PT Statika Mitrasarana Bengkulu didakwa menerima suap Rp1 miliar, bagian dari komitmen fee sebesar Rp4,7 miliar.

Dalam surat dakwaan itu, sejak awal Ridwan menyiapkan posisi Kuntadi untuk ‘mengamankan’ sejumlah proyek di Dinas PUPR. Namun dalam menjalankan tugasnya, Kuntadi tak menjalankan apa yang sudah ditentukan Ridwan.

Kuntadi sampai harus beberapa kali datang ke rumah Ridwan, untuk melaporkan sejumlah proyek yang ada di Dinas PUPR. Ridwan pun sempat memarahi Kuntadi dan jajarannya atas proyek yang tak didapat perusahaan pilihannya.

Tak hanya Kuntadi yang kena ‘semprot’, Ridwan juga marah kepada sejumlah pengusaha yang mendapatkan proyek di Dinas PUPR. Mereka di antaranya, Rico Diansari, Jhoni Wijaya, Ahmad Irfansyah selaku PT Sumber Alam Makmur Sejati dan Haryanto alias Lolak selaku PT Peu Putra Agung.

Dalam pertemuan di kantor gubernur, pada 5 Juni 2017, Ridwan marah dan dengan suara tinggi kepada para kontraktor itu. Dia mempertanyakan posisi para pengusaha itu saat pemilihan kepala daerah berlangsung.

“Saya ini ikut Pilkada berdarah-darah, habis ratusan miliar, emang kalian dimana selama ini? Jangan-jangan kalian lawan, bukan pendukung saya? Kenapa nggak pamit sama saya? Saya ini mantan pengusaha dan sudah dua periode jadi Bupati, ini sekarang saya jadi gubernur, saya penguasa di Bengkulu,” kata Ridwan dalam surat dakwaan.

Ridwan pun sempat bertanya kepada Jhoni Wijaya. Dia menanyakan kepemilikan PT Statika Mitrasarana.

Selanjutnya, pada akhir pertemuan Ridwan mengingatkan dan mengancam para kontraktor tersebut.

“Jangan macam-macam bermain dengan staf saya, staf Saya nanti Saya tempeleng,” tutur Ridwan ke mereka dalam surat dakwaan.

“Nanti saya bikin bangkrut kalian, di blacklist perusahaannya, saya putus kontrak kan semua.”

Akhirnya Ridwan dan Lily menerima uang Rp1 miliar dari Jhoni Wijaya lewat Rico Diansari. Uang itu bagian fee atas pengerjaan proyek peningkatan Jalan Tes-Muara Aman dan Jalan Curup–Air Dingin.

Namun, usai menerima Rp1 miliar keempatnya ditangkap penyidik KPK di Bengkulu pada 20 Juni 2017. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Kesal Kena Tilang, Pegawai Dinas PU Ini Matikan Aliran Air ke Asrama Polisi

KAYONG UTARA, – Kesal karena ditiling polisi, seorang pegawai kontrak di UPT Air Bersih Dinas Pekerjaan Umum Kota Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat, sengaja merusak sistem...

Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berbahaya di Dunia Bagi Perempuan

London - Jakarta berada di peringkat sembilan dalam daftar kota besar atau megacity yang paling berbahaya di dunia untuk perempuan, berdasarkan survei Yayasan Thomson...

Cerita Mengerikan Perempuan yang Lolos dari Kelompok ISIS

Baghdad - Komunitas Syiah Turkmenistan di Irak menjadi sasaran penganiayaan brutal oleh kelompok yang menamakan diri negara Islam (ISIS). Seorang perempuan, yang meminta untuk tidak...

PR PLN: Terangi 104 Desa di Kepri yang Belum Teraliri Listrik

Metrobatam, Batam - Ternyata masih cukup banyak desa terpencil Kepulauan Riau (Kepri) yang masih belum teraliri listrik. Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencatat saat ini...

Innalillahi! Diduga Ditusuk, Ketua DPRD Kolaka Utara Meninggal Dunia

Metrobatam, Kendari - Ketua Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Musakkir Sarira meninggal dunia akibat luka tusuk, Rabu. Kasubbid Pidana Polda...

Ketua DPRD: Tak Ada Aturan Wajibkan Paripurna Istimewa untuk Anies

Metrobatam, Jakarta - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik meminta agar Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi segera membuat Paripurna Istimewa untuk...

Wiranto: Usulan Pembentukan Densus Tipikor Bukan soal Politik

Metrobatam, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, wacana pembentukan detasemen khusus tindak pidana korupsi (Densus Tipikor) sama sekali tidak...

Dokumen Rahasia AS Ungkap Upaya Penggulingan Sukarno dan PKI

Metrobatam, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat disebut mengetahui rangkaian upaya Angkatan Darat (AD) untuk menghancurkan Partai Komunis negara (PKI) dan menggulingkan Sukarno mulai tahun...

Sri Mulyani Angkat Isu Perpindahan Dana WNI Rp 18,9 T di Forum Dunia

Washington - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sempat membicarakan persoalan uang 81 Warga Negara Indonesia (WNI) senilai Rp 18,99 triliun yang ditransfer dari Guernsey...

KPU Tutup Pendaftaran, Dokumen 13 Partai Belum Lengkap

Metrobatam, Jakarta - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hasyim Asy'ari mengatakan 13 Partai Politik (Parpol) berstatus belum memenuhi kelengkapan dokumen peserta pemilu 2019 hingga...

Radikalisme Agama Ancam Keberagaman Indonesia

Metrobatam, Pangkal Pinang - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengingatkan kepada masyarakat untuk terus mewaspadai penyebaran paham radikal atas...

Sajikan Gadis Belia, Prostitusi di Lhokseumawe Dikelola 2 Wanita

Metrobatam, Lhokseumawe - Kakak beradik di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh ditangkap anggota Satreskrim Polres Lhokseumawe. Keduanya diduga merupakan mucikari yang telah menjual...
BAGIKAN