Harimau Bonita is Back! Jejaknya Terlacak di Kebun Sawit

961

Metrobatam, Pekanbaru – Jejak-jejak terbaru harimau Bonita terlacak oleh ‘pawang’ wanita asal Kanada, Shakti, di perkebunan sawit. Namun, sosok harimau liar itu belum ditemukan.

Harimau Bonita kembali ke perkebunan sawit, tepatnya perkebunan milik PT Tabung Haji Indo Plantation di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, setelah sempat pulang ke habitatnya di hutan.

“Bonita sekarang kembali lagi ke perkebunan sawit. Sebelumnya, Bonita sempat masuk ke kawasan hutan,” kata Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Mulyo Hutomo, Jumat (13/4).

Menurut dia, Harimau Bonita terus diburu oleh tim terpadu yang terdiri dari BBKSDA, TNI/Polri dan aktivis lingkungan dan dibantu Shakti yang merupakan ahli Communicator Animal atau komunikasi satwa lewat frekuensi gelombang suara.

“Tim sempat tanya sama Shakti, kira-kira posisi Harimau Bonita sekarang ada di mana. Ahli communicator animal itu lewat gelombang frekuensi yang dia pelajari, menyatakan ada di kawasan kebun sawit ,” ujar Hutomo.

Hutomo mengatakan pihak BBKSDA ingin menguji keahlian kemampuan komunikasi lewat gelombang suara yang dimiliki Shakti. Setelah dikukan penelusuran, Harimau Bonita kini masuk ke perkebunan sawit.

“Jejak Bonita ditemukan tim di lahan sawit Blok 70. Walau berjumpa dengan jejaknya, namun tim belum bertemu langsung dengan Bonita,” kata Hutomo.

Tiga bulan lebih lamanya tim berusaha mengevakuasi Bonita dari lokasi konflik. Harimau liar itu pada 3 Januari lalu telah menyerang Jumiati hingga tewas di perkebunan sawit.

Bonita lalu ‘diburu’. Tim BBKSDA Riau turun ke lokasi untuk mengatasi kondisi di lapangan. BBKSDA memberikan perlindungan kepada masyarakat juga menyelamatkan Bonita dari ancaman pembunuhan sekelompok masyarakat.

Belum lagi selesai mengevakuasi, Bonita kembali melakukan aksinya menyerang kembali warga, Yusri, pada 10 Maret lalu, buruh bangunan itu tewas diserang Bonita. Sejak itu tim terpadu pun dibentuk. Sniper dari TNI/Polri pun diterjunkan untuk membantu tim yang sudah ada.

Sudah berjalan tiga bulan ini, tim belum juga berhasil mengevakuasi Bonita. Harimau liar yang kian langka di Indonesia ini sebenarnya sebelum terjadi konflik adalah sasaran pembunuhan dari sekelompok pemburu liar.

Hal itu bisa dibuktikan, ketika tim terjun ke lokasi pascatewasnya Jumiati, penelusuran di lokasi konflik banyak ditemukan jeratan harimau yang sengaja dipasang. Jeratan itu disita tim BBKSDA Riau dari sejumlah titik di kawasan konflik tersebut. Jeratan terbuat dari slink yang mematikan itu, membuktikan bahwa kelompok pemburu liar lebih awal akan membunuh Bonita.

Konflik manusia dengan harimau ini terjadi karena hancurnya kawasan hutan alam. Habitat Bonita disulap menjadi perkebunan sawit dan diberikannya izin kawasan hutan tanaman industri untuk kelangsungan pabrik kertas di Riau. Perizinan itu diberikan oleh penguasa masa lalu. Kini, manusia dan harimau konflik imbas dari kebijakan yang salah urus di masa lalu. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

DPRD Bintan akan Tinjau Pembendungan Bibir Pantai oleh Melia Resort Bintan

Metrobatam.com, Bintan - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)Kabupaten Bintan akan turun untuk melihat pembendungan bibir pantai yang dilakukan oleh Melia Resort Bintan. Hal tersebut ucapkan...

Bupati Bintan Kunker ke Tambelan

Metrobatam.com, Bintan - Bupati Bintan H Apri Sujadi, S.Sos dan Wakil Bupati Bintan Drs H Dalmasri Syam, MM melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Kecamatan...

Terungkap! Total Korban Abu Tours 96 Ribu Jemaah Umrah

Metrobatam, Makassar - Total jemaah yang menjadi korban Abu Tours mencapai 96.601 orang, sebelumnya disebut 86 ribu. Sedangkan uang yang dikumpulkan Abu Tours dari...

Indonesia Bakal Punya ‘Shinkansen’ Made in Madiun

Metrobatam, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) terus berupaya untuk mengembangkan industri perkeretaapian lokal menjadi lebih maju dan modern. Salah satu...

Ketua KPK Keluhkan Dosen Kampus Negeri Cenderung “Membela” Terdakwa Korupsi

Metrobatam, Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengeluh mereka kesulitan mencari ahli dari kalangan dosen universitas negeri untuk membantu pembuktian kasus...

Jum’at Keliling, Polsek Batam Kota Lakukan Kegiatan Memakmurkan Masjid

Metrobatam.com, Batam -  Jumat (20/04/2018) pada pukul 12.15 WIB bertempat di Mesjid Al Hidayah Perum Kopkar PLN Kel Belian Kec Batam kota-Kota Batam telah...

Bos IMF: Kami Melihat Indonesia Jauh Lebih Baik Sekarang

Washington DC - Ekonomi dunia tengah dalam kondisi pemulihan dengan prospek yang cerah, meski mmiliki risiko yang tetap perlu diwaspadai. Risiko itu terkait potensi...

MA Perberat Hukuman Dua Terdakwa Korupsi e-KTP Jadi 15 Tahun

Metrobatam, Jakarta - Majelis hakim Mahkamah Agung (MA) memutuskan memperberat hukuman dua terdakwa korupsi proyek pengadaan e-KTP, Irman dan Sugiharto. Keduanya dijatuhi vonis menjadi...

Debat Jaksa KPK vs Fredrich: Dari Bakpao Hingga Sesendok Burjo

Metrobatam, Jakarta - Adu argumen kerap mewarnai persidangan Fredrich Yunadi. Mantan pengacara Setya Novanto itu hampir selalu menentang segala tudingan jaksa KPK padanya. Seringkali perdebatan...

Kisah Pilu TKW Aini yang Tak Jumpa Keluarga Sejak 20 Tahun

Metrobatam, Jakarta - Tangis TKW Nur Aini (55) pecah saat melihat wajah keluarganya lewat sambungan video call dari kantor KBRI Riyadh, Arab Saudi. Nenek...

Ini Penjelasan Lengkap Menaker soal Polemik Perpres Tenaga Kerja Asing

Metrobatam, Jakarta - Peraturan Presiden Nomor 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing yang diterbitkan Presiden Joko Widodo menuai polemik hingga berbuntut wacana pansus di DPR....

KPU: Tak Ada Alasan untuk Kembalikan Pilkada ke DPRD

Metrobatam,,Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyatakan tidak ada alasan pemilihan kepala daerah (pilkada) dilakukan melalui DPRD atau tidak dipilih secara...
BAGIKAN