Metrobatam, Jakarta – Dunia peradilan Indonesia dihebohkan dengan foto para hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) berpose ‘salam 2 jari’. Padahal, jangankan salam 2 jari, untuk memberi status ‘like’ di media sosial terkait Pilpres saja para hakim sudah dilarang Mahkamah Agung (MA).

Dirangkum detikcom, Rabu (13/2), foto itu menampilkan 10 hakim memakai toga merah. Dari 10 hakim itu, satu di antaranya perempuan dan berjilbab. Mereka dengan senyum lebar berfoto bersama dengan jari jempol dan telunjuk mengacung. Ada satu hakim yang mengepalkan tangan dan satunya mengacungkan jempol.

Tapi foto-foto yang dianggap bernuansa politis itu dibantah oleh Ketua PN Jakpus. Foto itu tak lain hanyalah gaya pistol saja.

Foto itu diambil 3 bulan lalu. Mereka ramai-ramai foto karena salah satu di antara hakim ada yang pindah ke PN Bengkulu. Sebagai kenang-kenangan, mereka lalu foto bersama.

“Itu pistol, bukan dua jari. Kemudian ada jempol dan genggam juga ada, tapi orang iseng ditambahi, padahal pakai kamera, tidak pakai handphone,” kata Ketua PN Jakpus Yanto saat berbincang dengan detikcom di kantornya, Jalan Bungur Raya, Jakpus, Senin (12/2).

Menurut Yanto, para hakim di foto tersebut sedang foto bergaya pistol, bukan salam dua jari. Sehingga bukan bagian dari salam dua jari politik.

“Itu pistol, bukan dua jari. Kemudian ada jempol dan genggam juga,” ujar Yanto.

Salah satu hakim yang ikut foto, Anwar membenarkan foto yang beredar tersebut. Namun ia membatah foto itu terkait pilpres.

“Pak Ansori dapat SK (Hakim PN Jakpus pindah tugas tempat baru-red). Mereka mau minta foto buat lah kenang-kenangan. Pas pagi jelang sidang ketemu di atas,” ungkap hakim Anwar saat diwawancara terpisah.

Perlu diketahui, Dirjen Badilum MA sudah membuat surat edaran bernama ‘Larangan Hakim Berpolitik’, yang ditandatangani Dirjen Badilum Herri Swantoro pada 7 Februari 2019. Dirjen meminta para hakim di lingkungan pengadilan umum mematuhi dan melaksanakan surat edaran ini.

“Hakim harus imparsial dan independen. Hakim dilarang mengunggah, menanggapi (seperti like, berkomentar, dan sejenisnya) atau menyebarkan gambar/foto bakal calon, visi-misi, mengeluarkan pendapat yang menunjukkan keberpihakan salah satu calon,” demikian bunyi surat edaran Dirjen Badilum.

Sementara itu Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengimbau agar para pejabat negara lebih berhati-hati dalam mengabadikan sesuatu.

“Ya harus ambil hikmahnya bahwa kalo dia sudah ASN mestinya lebih berhati-hati,” ujar Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, ketika dihubungi detikcom, Selasa (12/2).

Karding menyarankan hakim yang bersangkutan melaporkan kepada pihak berwenang jika merasa dirugikan atas beredarnya foto itu. Apalagi, foto tersebut sudah viral dan dikaitkan dengan Pilpres 2019.

“Kalau hakim tersebut tidak berniat sama sekali mendukung pasangan 02, maka dia bisa saja melaporkan ke polisi kalau dia merasa dirugikan dengan viralnya pose tersebut di media sosial,” ucapnya.

Tidak Terkait Politik

Mahkamah Agung (MA) juga menegaskan foto yang ramai diperbincangkan tersebut sama sekali tidak terkait politik.

“Kalau menurut informasi itu kan bermacam gaya tidak hanya satu macam gaya saja, jadi ya tidak ada maksud mengkaitkan dengan politik. Jangan salah mengartikan seperti itu sekarang kan lagi sensitif,” ujar Kepala Biro Hukum dan Humas MA Abdullah ketika dihubungi detikcom, Selasa (12/2).

Abdullah mengatakan pihaknya belum menemukan siapa para hakim yang berada dalam foto itu. Namun, ia memastikan mereka merupakan hakim ad hoc Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“Itu menurut informasi itu hakim ad hoc Tipikor, PN Jakarta Pusat,” ucapnya.

Ia menjelaskan foto itu sudah diambil sejak tiga bulan saat merayakan perpisahan atas pindahnya salah satu hakim ad hoc ke Bengkulu. Kemudian para hakim itu jelas Abdullah mengabadikannya dengan menggunakan tustel untuk kepentingan pribadi.

“Menurut informasi dari ketua pengadilan itu sudah dilakukan 3 bulan lalu, dan itu berbagai pose, tetapi yang diviralkan seperti itu (pose dua jari). Jadi itu ceritanya setelah acara hakim ad hoc yang akan pindah ke Bengkulu, kemudian foto foto, itu pun pakai tustel nggak pakai handphone, makanya mereka tidak merasa memviralkan foto, tapi kok ada di media, berarti kan ada yang sengaja memviralkan itu,” katanya.

Abdullah pun menyebut para hakim itu berfoto dengan berbagai macam gaya. Sehingga dirinya tidak ingin berspekulasi terkait foto yang viral itu. Ia menyebut momen tersebut hanya pengaruh suasana perpisahan.

“Sekarang apa adanya seperti itu, kita kan juga belum tahu apakah setiap orang gaya kemudian diartikan dukung mendukung itu kan terlalu berlebihan.Itu tanggung jawab ketua pengadilan masing-masing ketua pengadilan pasti sudah periksa. Meskipun pose seperti itu kan belum ada maksud bersifat politik, itu kan hanya euforia untuk perpisahan saja,” lanjut Abdullah. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Pemko Batam dapat Hibah Lahan untuk Bangun BLK

Metrobatam.com, Batam - Perusahaan Citramas Group akan menghibahkan lahan ke Pemerintah Kota Batam untuk pembangunan balai latihan kerja (BLK). Lahan yang disiapkan seluas 5...

Luhut: Saya Hanya Bilang Jangan Ribut di Arena Debat Capres

Metrobatam, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan buka suara terkait keriuhan di sela-sela debat capres kedua pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Luhut...

Tim Prabowo Sempat Mau Boikot Debat Capres Kedua

Metrobatam, Jakarta - Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean sempat menyarankan kepada calon presiden Prabowo Subianto memboikot debat capres kedua. Hal ini menyusul keributan para...

PDIP Seret Nama Amien Rais Terkait Isu Lahan Prabowo

Metrobatam, Jakarta - PDIP menyeret nama Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais terkait polemik isu lahan milik capres Prabowo Subianto yang bergulir sejak debat...

Prabowo Sebut Kasus Ahmad Dhani Dendam Politik, Kejari: Murni Hukum

Metrobatam, Jakarta - Capres Prabowo Subianto menyebut kasus yang melibatkan Ahmad Dhani sebagai bentuk dendam politik. Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan mengatakan kasus tersebut...

Polisi Dalami Dugaan Joko Driyono Terlibat Kasus Lain

Metrobatam, Jakarta - Polisi menyatakan masih mendalami dugaan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono terlibat kasus lain selain dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor....

Gugat Prabowo, ‘Harjo’ Ingin Bongkar Hoaks Selang Cuci Darah

Metrobatam, Jakarta - Advokat yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan Harimau Jokowi (Harjo) menggugat perdata calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto ke Pengadilan Negeri...

Ajudan Kapolres Nyaris Tewas Dikeroyok Warga, 3 Pelaku Ditangkap 2 Kabur

Metrobatam, Jayapura - Ajudan Kapolres Jayawijaya, Briptu Agus Dalyono nyaris tewas setelah dikeroyok warga. Peristiwa itu terjadi di di ruangan laboratorium RSUD Wamena, Senin...

Disoal Dahnil, Mendes Tegaskan Jalan Desa 191 Ribu Km Bukan ‘Simsalabim’

Metrobatam, Jakarta - Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mempertanyakan klaim Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pembangunan jalan...

‘Pengkhianatan’ Facebook pada WhatsApp

Metrobatam, Jakarta - WhatsApp dibeli Facebook tepat 5 tahun lampau. Kala itu, Jan Koum dan Brian Acton selaku pendirinya ikut bergabung dengan perusahaan milik...

Jokowi Menyerang Prabowo, JK Buka Fakta

Metrobatam, Jakarta - Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) menyerang Prabowo Subianto dengan besarnya lahan Hak Guna Usaha (HGU) sang rival. Wapres Jusuf Kalla (JK)...

Hashim Jenguk Ahmad Dhani: Dia Mendapat Tekanan yang Berat

Metrobatam, Surabaya - Adik Kandung Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo membesuk terdakwa kasus pencemaran nama baik lewat ujaran 'idiot' Ahmad Dhani di Rutan Klas 1...