Ini Jejak 4 Terpidana yang Dieksekusi Mati

Metrobatam, Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) telah mengeksekusi mati 4 terpidana pada pukul 00.45 WIB, Jumat (29/7) di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dari keempat terpidana mati yang sudah didor itu salah satunya adalah gembong narkoba Freddy Budiman.

Freddy menjadi satu-satunya WNI yang dieksekusi, sementara 3 terpidana mati lainnya adalah WNA asal Afrika. Ketiganya adalah Michael Titus asal Nigeria, Humprey Ejike asal Nigeria dan Cajetan Uchena Onyeworo Seck Osmane asal Afrika Selatan. Bagaimana jejak keempatnya hingga akhirnya dihukum mati?

1. Freddy Budiman
Freddy Budiman dihukum mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) pada Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta dan tingkat kasasi. Upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali juga telah diberikan tetapi MA menolaknya, pekan lalu.

Meski dipenjara di LP Cipinang, Freddy masih bisa mengendalikan bisnis narkobanya hingga ke luar negeri. Di dalam penjara, Freddy melakukan musyawarah jahat dengan Chandra Halim untuk mengimpor 1,4 juta pil ekstasi dari Hong Kong. Operasi disusun rapi melibatkan banyak pihak tapi aparat berhasil mengendusnya dan membongkar aksi itu pada 2013.

Dari terbongkarnya aksi Freddy mengimpor pil ekstasi tersebut, aparat mengendus ada yang berbeda dengan kamar penjara Freddy di LP Cipinang. Setelah digerebek, terungkap Freddy membuat pil ekstasi di dalam kamarnya. Berbagai perkakas dan bahan baku sabu ia dapatkan dari luar dengan menyuap para sipir penjara.

Setelah kasus itu terbongkar, Freddy dipindahkan ke Pulau Nusakambangan. Tapi lagi-lagi Freddy tidak kapok dan terus mengendalikan bisnis narkobanya. Bermodal BlackBerry, Freddy mengoperasikan jaringannya dari dalam penjara super maximum security tersebut dengan aset mencapai miliaran rupiah.

Kasus penyelundupan narkoba kembali dilakukan oleh Freddy di dalam Lapas Nusakambangan. Freddy mengaku mengimpor 50 ribu butir pil ekstasi dari Belanda ke Indonesia lewat Jerman. Paket itu dimasukkan ke kardus dengan tujuan akhir Kantor Pos Cikarang. Freddy menyuruh anak buahnya, Suyanto untuk mengurus paket tersebut.

2. Michael Titus
Titus ditangkap di apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara, terkait jaringan narkotika pada Juli 2002. Titus merupakan jaringan gembong narkoba bersama Hillary, Marlena, Izuchukwu Okoloaja alias Kholisan Nkomo, dan Michael Titus Igweh. Dalam jaringan narkotika internasinal ini didapati bukti heroin 5,8 kg heroin.

Pada 23 Oktober 2003, PN Tangerang dengan majelis hakim yang diketuai Permadi, menjatuhkan hukuman mati kepada Titus. Hukuman ini dikuatkan hingga tingkat peninjauan kembali (PK). Pada 10 Oktober 2010, majelis PK yang terdiri dari Djoko Sarwoko, Komariah Sapardjdja dan Sri Murwahyuni menolak PK Titus.

Setelah upaya PK pertama gagal, Titus kembali mengajukan PK kedua. Namun, upaya PK kedua yang diajukan oleh Titus ditolak oleh pengadilan. Putusan itu diketok pada Rabu (20/7) petang oleh majelis hakim yang terdiri dari hakim agung Artidjo Alkostar, hakim agung Suhadi dan hakim agung Andi Samsan Nganro.

3. Humprey Ejike
Pria yang juga dipanggil Doctor itu dibekuk pada 2 Agustus 2003 di sebuah restoran di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Dari kamar tidur terdakwa ditemukan 1,7 kg heroin.

Atas perbuatannya, Ejike dihukum mati lewat putusan PN Jakpus pada 6 April 2004 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta pada 22 Juni 2004 dan dikukuhkan oleh majelis kasasi pada 4 November 2004.

Mahkamah Agung (MA) juga menolak permohonan PK Ejike pada 27 September 2007 oleh majelis hakim yang terdiri dari Parman Soeparman, Artidjo Alkostar dan Imam Harijadi.

Meski Ejike dijebloskan di LP Nusakambangan, dia masih menggerakkan orang-orangnya jualan narkoba. BNN menciduk Doctor atas keterkaitan 97 kapsul sabu yang dimiliki seorang perempuan di Depok, Jawa Barat, pada November 2012.

4. Seck Osmane

Seck dijatuhi hukuman mati karena kedapatan memiliki 3 kg heroin di kamar kosnya di Eksekutif Panorama, Jalan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Oktober 2003. Atas kepemilikan narkotika golongan I itu, Seck lalu dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada 21 Juli 2004 dengan ketua majelis hakim Roki Panjaitan.

Hukuman mati itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta pada 8 September 2004 dan kasasi pada 25 Januari 2005. Tidak terima atas vonis itu, Sack pun mengajukan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan peninjauan kembali (PK) tapi ditolak MA pada 1 Oktober 2009.

Meski menemui jalan buntu, Seck mencoba mengundi nasib dengan kembali mengajukan PK ke PN Jaksel pada 23 Oktober 2011 dengan meminta hukumannya diperingan menjadi hukuman seumur hidup atau dalam hitungan tahun. Tapi PN Jaksel menolak PK tersebut dengan alasan Seck sudah pernah menggunakan satu-satunya kesempatan PK yang diberikan.(mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Ketua DPRD Kepri Serahkan Bantuan Hewan Kurban di Batam

Metrobatam.com, BatamĀ  - Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak menyerahkan bantuan hewan kurban kepada pengurus Masjid Nurul Iman, Kelurahan, Tembesi, Minggu (19/8/2018). Penyerahan hewan kurban berupa...

Danlantamal IV Tatap Muka Dengan Ibu-Ibu Jalasenastri Korcab IV DJA I

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Menjelang pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) Jalasenastri ke-72, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R. Eko...

Indonesia Tambah 3 Emas, Ini Perolehan Medali dan Klasemen Asian Games

Metrobatam, Jakarta - Sampai Senin (20/8) pukul 15.00 WIB perolehan medali emas Indonesia bertambah tiga. Kontingen Indonesia pun naik ke urutan tiga klasemen Asian...

Senyum Lebar Joni Pemanjat Tiang Dapat Bantuan Renovasi Rumah

Metrobatam, Jakarta - Yohanes Gama Marschal Lau alias Joni, bocah pemanjat tiang bendera dalam upacara HUT ke-73 RI di Desa Silawan, Belu, Nusa Tenggara...

Gempa 6,9 SR di Lombok Berasal dari Sesar Naik Flores

Metrobatam, Jakarta - Gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) kembali mengguncang pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu 19 Agustus 2018. Gempa besar...

Mahfud Md Tolak Jadi Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf, Ini Alasannya

Metrobatam, Jakarta - Mahfud Md menolak menjadi ketua tim pemenangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Ia mengungkap alasannya. Apa itu? "Saya tak bisa jadi ketua timses atau...

PNS di Aceh Dapat Tambahan Libur Idul Adha 2 hari

Metrobatam, Banda Aceh - Menyambut lebaran Idul Adha 1439 H, Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Aceh mendapat tambahan libur selama dua hari. Meski demikian,...

Lindswell Persembahkan Emas Kedua untuk Indonesia di Asian Games 2018

Metrobatam, Jakarta - Indonesia meraih emas keduanya di Asian Games 2018. Lindswell Kwok menambahnya dari cabang wushu. Di Hall B JIEXpo Kemayoran, Senin (20/8), Lindswell...

SBY Disomasi, Anggota DPR Anton Sukartono Bantah Palsukan Ijazah

Metrobatam, Jakarta - Forum Silaturahmi Alumni (FSA) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lintas Generasi menduga bacaleg Partai Demokrat (PD) Anton Sukartono Suratto menggunakan gelar dan...

Terima Suap, Eks Bupati Subang Imas Dituntut 8 Tahun Bui

Metrobatam, Bandung - Mantan Bupati Subang Imas Aryumningsih dituntut delapan tahun bui. Imas terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi berupa menerima suap perizinan sebesar...

Korban Tewas Sementara Gempa Lombok 548 Orang

Metrobatam, Jakarta - Korban tewas gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Barat untuk sementara 548 orang. Pendataan masih terus dilakukan sehingga kemungkinan jumlah korban...

Di Balik Kisah Ratoh Jaroe, Tarian Aceh Pembuka Asian Games 2018

Assalamualaikum kami ucapkan Para undangan yang baru teuka Karena salam Nabi khen sunat ...
BAGIKAN