Ini Perjalanan Bisnis Narkoba Freddy Budiman dengan Oknum Polda Jaya

    598

    Jakarta – Freddy Budiman dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan pada Jumat (29/7). Namun eksekusi matinya masih menyisakan cerita terkait jaringan Freddy. Siapakah Freddy sebetulnya?

    Kasus Freddy menyeruak saat ia jadi terdakwa kasus penyelundupan 1,4 juta butir pil ekstasi dari Hong Kong ke Indonesia. Padahal, saat itu Freddy tengah menghuni penjara LP Cipianang. Tapi untuk kasus apa sehingga Freddy menghuni LP Cipinang?

    Berdasarkan berkas putusan pengadilan yang didapat detikcom, Senin (1/7), Freddy masuk LP Cipinang karena terlibat kasus jual beli narkoba dengan aparat Ditnarkoba Polda Metro Jaya.

    Kasus itu bermula saat Freddy mendatangi rumah anggota Ditnarkoba Polda Metro Jaya, Aipda Sugito, di Jalan Regalia, Ciracas, Jakarta Timur, April 2011. “Saya tahu rumah Sugito karena saya informan untuk target bandar besar bernama Harun,” kata Freddy.

    Dalam kunjungan itu, Freddy melihat alat mesin pencetak narkoba di rumah Sugito.
    “Mas, alat cetak ini bisa dipakai tidak?” tanya Freddy.

    “Saya belum tahu cara pakainya, nanti akan saya coba,” jawab Sugito.

    “Alat ini untuk apa, Mas?” tanya Freddy.

    “Nanti sampeyan juga tahu. Saya lagi ada kerjaan akan nangkap bandar besar,” jawab Sugito.

    Setelah itu Freddy pulang.

    Pada 26 April 2011, Sugito memerintahkan anak buahnya Bripka Bahri Arfianto untuk mengeluarkan barang bukti narkoba dari brankas untuk dijual guna menutupi kas operasional. Sugito berdalih diperintahkan atasannya.

    “To, uang kas sudah habis, tolong kamu kondisikan,” kata Sugito menirukan perintah atasannya.

    Sebagai bawahan, Sugito menyanggupi perintah itu dan menawarkan paket 200 gram sabu ke Freddy seharga Rp 140 juta. Di sisi lain, Freddy mengaku dirinya sedang kebingungan mau menitipkan paket sabu yang ia peroleh dari dari WN Malaysia
    Ahmad. Sugito tidak keberatan paket sabu itu dititipkan di rumahnya. Baik Sugito dan Freddy sepakat dengan perjanjian
    itu.

    Pada 27 April 2011, Freddy ke rumah Sugito dan menitipkan paket sabu di lantai dua rumah Sugito. Saat itu, Sugito tidak ada di rumah dan hanya ada istri Sugito.

    Usai menaruh paket sabu di lantai dua, Freddy kemudian meninggalkan rumah Sugito dan pergi ke arah Kemayoran. Di tengah jalan, Freddy ditangkap aparat kepolisian. Freddy didapati membawa tas yang berisi 300 gram putau, 30 gram sabu dan bahan sabu 0,5 kg. Mata Freddy ditutup dan tahu-tahu sudah ada di rumah Sugito. Aparat menyita paket sabu di rumah Sugito dan memproses hukum komplotan tersebut.

    Atas perbuatannya, mereka diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) dan dihukum:

    1. Aipda Sugito dihukum 9,5 tahun penjara.
    2. Bripka Bahri dihukum 9 tahun dan 3 bulan penjara.
    3. Freddy dihukum 9,5 tahun penjara.

    “Menjatuhkan pidana selama 9 tahun 6 bulan dan denda sebesar Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana penjara sealam 6 bulan,” putus Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pada 10 Januari 2012.

    Setelah itu, Freddy menghuni LP Cipinang. Siapa nyana, ia dengan bebas mengurus bisnis narkoba di luar penjara, termasuk rencana impor 1,4 juta pil ekstasi. Kasus itu terungkap dan Freddy kemudian dihukum beserta komplotannya, yaitu:

    1. Freddy Budiman divonis mati.
    2. Ahmadi divonis mati.
    3. Chandra Halim divonis mati.
    4. Teja Haryono divonis mati.
    5. Hani Sapto Pribowo dipenjara seumur hidup.
    6. Abdul Syukur dipenjara seumur hidup.
    7. Muhtar dipenjara seumur hidup.
    8. Anggota TNI Serma Supriadi divonis 7 tahun penjara dan telah dipecat.

    Terungkap pula Freddy juga membangun pabrik sabu di kamarnya di LP Cipinang. Mereka yang terlibat dihukum dengan rincian:

    1. Wakil Kepala Pengamanan Gunawan Wibisono dijatuhi hukuman 8 tahun penjara
    2. Aris Susilo dijatuhi hukuman 5 tahun dan 10 bulan penjara
    3. Cecep Setiawan Wijaya dihukum mati di kasus impor 6 kg sabu.
    4. Haryanto Chandra belum dipublikasikan

    Kasus ini pun meledak dan Freddy dipindahkan ke Nusakambangan. Tetapi apa nyana, ia masih mengontrol jaringan narkoba miliknya dan anak buahnya. Mereka yang dihukum di kasus ini adalah:

    1. Suyatno dihukum 20 tahun penjara.
    2. Suyatno alias Gimo dihukum 20 tahun penjara.
    3. Aries Perdana dihukum 20 tahun penjara.
    4. Latief (adik Freddy Budiman) dihukum penjara seumur hidup
    (mb/detik)

    Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    BERITA TERKINI

    Danlantamal IV Pimpin Sertijab Danlanal Tanjung Balai Karimun

    Metrobatam.com, Tanjungpinang - Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R. Eko Suyatno, S.E., M.M., memimpin langsung jalannya Upacara Serah...

    Kapolsek Sekupang Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan di Kawasan Sei Ladi Batam

    Metrobatam.com, Batam - Hari Rabu, (25 /04/ 2018), kiraan pukul 15.30 WIB telah terjadi kebakaran hutan lindung di wilayah Sei Ladi, Batam. Kapolsek Sekupang Kompol...

    Kedatangan Danlantamal IV dan Ketua Korcab IV DJAB di Karimun, Disambut dengan Tari Persembahan

    Metrobatam.com, Tanjungpinang - Kedatangan Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI R. Eko Suyatno, S.E., M.M., bersama Ketua Korcab IV...

    KPK Geledah Rumah Tim Sukses saat Zumi Zola Kampanye Gubernur Jambi

    Metrobatam, Jambi - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus melakukan penyelidikan terhadap dugaan uang gratifikasi dari Gubernur Jambi nonaktif Zumi Zola. Kali ini,...

    Liga Champions: Liverpool Libas Roma 5-2

    Liverpool - Liverpool meraih kemenangan besar di leg pertama semifinal Liga Champions. The Reds mengalahkan AS Roma di kandang sendiri dengan skor 5-2. Menjamu Roma...

    KPK Bidik Pihak Lain di Pusaran Korupsi E-KTP Pasca-Vonis Setya Novanto

    Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan akan membidik pihak lain yang terlibat dalam pusaran korupsi pengadaan e-KTP setelah dijatuhkannya vonis terhadap mantan...

    Divonis 15 Tahun, Setya Novanto Syok

    Metrobatam, Jakarta - Mantan Ketua DPR Setya Novanto alias Setnov mengaku kaget dengan vonis 15 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider tiga bulan...

    Bertemu dengan Jokowi, PA 212: Pertemuan Berlangsung di Istana Bogor

    Metrobatam, Jakarta - Foto pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212 jadi sorotan. Ketua Umum DPP PA 212 Slamet Maarif mengatakan pertemuan...

    Lembaga-Lembaga PBB Puji Indonesia Jalankan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    Metrobatam, Jakarta - Lembaga-lembaga di bawah naungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memuji komitmen Indonesia dalam menjalankan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Hal...

    Gara-gara Pencurian Listrik, PLN Hilang Pendapatan Rp 10 T

    Metrobatam, Jakarta - PT PLN (Persero) mengaku kehilangan potensi pendapatan Rp 10 triliun gara-gara pencurian listrik. Pencurian listrik ini dilakukan industri hingga perumahan. "Karena tahu...

    Polisi Sita 142,8 kg Ganja Jaringan Aceh-Jakarta

    Metrobatam, Jakarta - Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menangkap enam orang yang masuk dalam jaringan narkotika Aceh - Jakarta. Dari penangkapan tersebut didapati...

    Gubernur Aceh Dipolisikan Anggota DPR Terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik

    Metrobatam, Banda Aceh - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Abdullah Saleh melaporkan akun Facebook milik Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf ke polisi. Laporan itu...
    BAGIKAN