Ini Perjalanan Bisnis Narkoba Freddy Budiman dengan Oknum Polda Jaya

    Jakarta – Freddy Budiman dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan pada Jumat (29/7). Namun eksekusi matinya masih menyisakan cerita terkait jaringan Freddy. Siapakah Freddy sebetulnya?

    Kasus Freddy menyeruak saat ia jadi terdakwa kasus penyelundupan 1,4 juta butir pil ekstasi dari Hong Kong ke Indonesia. Padahal, saat itu Freddy tengah menghuni penjara LP Cipianang. Tapi untuk kasus apa sehingga Freddy menghuni LP Cipinang?

    Berdasarkan berkas putusan pengadilan yang didapat detikcom, Senin (1/7), Freddy masuk LP Cipinang karena terlibat kasus jual beli narkoba dengan aparat Ditnarkoba Polda Metro Jaya.

    Kasus itu bermula saat Freddy mendatangi rumah anggota Ditnarkoba Polda Metro Jaya, Aipda Sugito, di Jalan Regalia, Ciracas, Jakarta Timur, April 2011. “Saya tahu rumah Sugito karena saya informan untuk target bandar besar bernama Harun,” kata Freddy.

    Dalam kunjungan itu, Freddy melihat alat mesin pencetak narkoba di rumah Sugito.
    “Mas, alat cetak ini bisa dipakai tidak?” tanya Freddy.

    “Saya belum tahu cara pakainya, nanti akan saya coba,” jawab Sugito.

    “Alat ini untuk apa, Mas?” tanya Freddy.

    “Nanti sampeyan juga tahu. Saya lagi ada kerjaan akan nangkap bandar besar,” jawab Sugito.

    Setelah itu Freddy pulang.

    Pada 26 April 2011, Sugito memerintahkan anak buahnya Bripka Bahri Arfianto untuk mengeluarkan barang bukti narkoba dari brankas untuk dijual guna menutupi kas operasional. Sugito berdalih diperintahkan atasannya.

    “To, uang kas sudah habis, tolong kamu kondisikan,” kata Sugito menirukan perintah atasannya.

    Sebagai bawahan, Sugito menyanggupi perintah itu dan menawarkan paket 200 gram sabu ke Freddy seharga Rp 140 juta. Di sisi lain, Freddy mengaku dirinya sedang kebingungan mau menitipkan paket sabu yang ia peroleh dari dari WN Malaysia
    Ahmad. Sugito tidak keberatan paket sabu itu dititipkan di rumahnya. Baik Sugito dan Freddy sepakat dengan perjanjian
    itu.

    Pada 27 April 2011, Freddy ke rumah Sugito dan menitipkan paket sabu di lantai dua rumah Sugito. Saat itu, Sugito tidak ada di rumah dan hanya ada istri Sugito.

    Usai menaruh paket sabu di lantai dua, Freddy kemudian meninggalkan rumah Sugito dan pergi ke arah Kemayoran. Di tengah jalan, Freddy ditangkap aparat kepolisian. Freddy didapati membawa tas yang berisi 300 gram putau, 30 gram sabu dan bahan sabu 0,5 kg. Mata Freddy ditutup dan tahu-tahu sudah ada di rumah Sugito. Aparat menyita paket sabu di rumah Sugito dan memproses hukum komplotan tersebut.

    Atas perbuatannya, mereka diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) dan dihukum:

    1. Aipda Sugito dihukum 9,5 tahun penjara.
    2. Bripka Bahri dihukum 9 tahun dan 3 bulan penjara.
    3. Freddy dihukum 9,5 tahun penjara.

    “Menjatuhkan pidana selama 9 tahun 6 bulan dan denda sebesar Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana penjara sealam 6 bulan,” putus Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pada 10 Januari 2012.

    Setelah itu, Freddy menghuni LP Cipinang. Siapa nyana, ia dengan bebas mengurus bisnis narkoba di luar penjara, termasuk rencana impor 1,4 juta pil ekstasi. Kasus itu terungkap dan Freddy kemudian dihukum beserta komplotannya, yaitu:

    1. Freddy Budiman divonis mati.
    2. Ahmadi divonis mati.
    3. Chandra Halim divonis mati.
    4. Teja Haryono divonis mati.
    5. Hani Sapto Pribowo dipenjara seumur hidup.
    6. Abdul Syukur dipenjara seumur hidup.
    7. Muhtar dipenjara seumur hidup.
    8. Anggota TNI Serma Supriadi divonis 7 tahun penjara dan telah dipecat.

    Terungkap pula Freddy juga membangun pabrik sabu di kamarnya di LP Cipinang. Mereka yang terlibat dihukum dengan rincian:

    1. Wakil Kepala Pengamanan Gunawan Wibisono dijatuhi hukuman 8 tahun penjara
    2. Aris Susilo dijatuhi hukuman 5 tahun dan 10 bulan penjara
    3. Cecep Setiawan Wijaya dihukum mati di kasus impor 6 kg sabu.
    4. Haryanto Chandra belum dipublikasikan

    Kasus ini pun meledak dan Freddy dipindahkan ke Nusakambangan. Tetapi apa nyana, ia masih mengontrol jaringan narkoba miliknya dan anak buahnya. Mereka yang dihukum di kasus ini adalah:

    1. Suyatno dihukum 20 tahun penjara.
    2. Suyatno alias Gimo dihukum 20 tahun penjara.
    3. Aries Perdana dihukum 20 tahun penjara.
    4. Latief (adik Freddy Budiman) dihukum penjara seumur hidup
    (mb/detik)

    Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    BERITA TERKINI

    Anggota DPR RI Dwi Ria Latifa Apresiasi Halal Bi Halal Warga Punggowo

    Metrobatam.com , Batam - Anggota DPR RI Fraksi Partai PDIP, Dwi Ria Latifa mengapresiasi atas pelaksanaan halal bi halal Keluarga besar Punggowo Kota Batam...

    Ocarina Batam Fasilitas Segala Permainan dan Hiburan Nyaman Sambil Mengadakan Gebyar Undian Hadiah Pemenang

    Metrobatam.com - Batam Agus supryanto general manager ocarina menerangkan "dengan adanya memumumkan gebyar mega wisata new ocarina sudah ada pemenang nya, pemenang hasil undian...

    Lantamal IV Gagalkan Penyeludupan TKI Ilegal ke Malaysia

    Metrobatam.com - Tanjungpinang, 14 Juli 2018,…. Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Pangkalan Utama Angakatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang kembali menangkap 12 Tenaga Kerja...

    Penindakan Satwa Dan Tumbuhan Kpu Bea Dan Cukai Tipe B Batam

    Metrobatam.com - Batam Batam, KPU BC Batam konferensi pers kepada awak media mengenai hasil tindakan satwa dan tumbuhan, Jumat (13/07). Susila Brata Kepala Kantor KPU BC...

    Hanura: Yang Sering Komporin Masyarakat Amien Rais

    Metrobatam, Jakarta - Presiden Jokowi menilai ada 'politikus kompor' yang memanas-manasi suasana politik jelang pemilu 2019. Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menyebutkan...

    Geledah 5 Lokasi, KPK Sita Dokumen Keuangan Proyek PLTU Riau

    Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) total menggeledah lima tempat terkait kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 yang menjerat Wakil Ketua DPR Komisi...

    Polisi Periksa Sejumlah Saksi Terkait Pembantaian Ratusan Buaya di Sorong

    Metrobatam, Jakarta - Polisi akan memeriksa sejumlah saksi terkait pembantaian terhadap 292 ekor buaya di penangkaran milik CV. Mitra Lestari Abadi, Provinsi Papua Barat....

    Bagikan Bahan Pakaian untuk Menangkan Cagub Riau, Timses Ini Dibui

    Metrobatam, Pekanbaru - Pihak Sentra Gakkumdu (Penegagakan Hukum Terpadu) Provinsi Riau memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap warga berinisial DS. Pria tersebut ditahan karena diduga...

    Modric: Tak Ada Penyesalan, Kroasia Lebih Baik dari Prancis

    Moskow - Luka Modric berpendapat bahwa Kroasia bisa bangga sekalipun dikalahkan Prancis di final Piala Dunia 2018. Kroasia bermain lebih baik sekalipun gagal juara. Kroasia...

    Wakapolri Klaim Punya Alat Canggih Tangkal Terorisme

    Metrobatam, Jakarta - Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan saat ini Polri telah memiliki alat canggih guna menangkal aksi terorisme di Indonesia. Menurutnya, saat ini Polri...

    Keluarga Lalu Zohri Tak Pernah Menolak Renovasi Rumah

    Metrobatam, Jakarta - Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri, Baiq Fazila, menyangkal jika keluarganya menolak bantuan renovasi rumah mereka di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pihaknya...

    Pertimbangan PD Merapat ke Jokowi, Cawapres Harus Bersahabat

    Metrobatam, Jakarta - Partai Demokrat (PD) menanti pengumuman dari Presiden Joko Widodo untuk menentukan siapa sosok cawapresnya di Pilpres 2019. Sosok cawapres Jokowi akan...
    BAGIKAN