Ini Perjalanan Bisnis Narkoba Freddy Budiman dengan Oknum Polda Jaya

    573

    Jakarta – Freddy Budiman dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan pada Jumat (29/7). Namun eksekusi matinya masih menyisakan cerita terkait jaringan Freddy. Siapakah Freddy sebetulnya?

    Kasus Freddy menyeruak saat ia jadi terdakwa kasus penyelundupan 1,4 juta butir pil ekstasi dari Hong Kong ke Indonesia. Padahal, saat itu Freddy tengah menghuni penjara LP Cipianang. Tapi untuk kasus apa sehingga Freddy menghuni LP Cipinang?

    Berdasarkan berkas putusan pengadilan yang didapat detikcom, Senin (1/7), Freddy masuk LP Cipinang karena terlibat kasus jual beli narkoba dengan aparat Ditnarkoba Polda Metro Jaya.

    Kasus itu bermula saat Freddy mendatangi rumah anggota Ditnarkoba Polda Metro Jaya, Aipda Sugito, di Jalan Regalia, Ciracas, Jakarta Timur, April 2011. “Saya tahu rumah Sugito karena saya informan untuk target bandar besar bernama Harun,” kata Freddy.

    Dalam kunjungan itu, Freddy melihat alat mesin pencetak narkoba di rumah Sugito.
    “Mas, alat cetak ini bisa dipakai tidak?” tanya Freddy.

    “Saya belum tahu cara pakainya, nanti akan saya coba,” jawab Sugito.

    “Alat ini untuk apa, Mas?” tanya Freddy.

    “Nanti sampeyan juga tahu. Saya lagi ada kerjaan akan nangkap bandar besar,” jawab Sugito.

    Setelah itu Freddy pulang.

    Pada 26 April 2011, Sugito memerintahkan anak buahnya Bripka Bahri Arfianto untuk mengeluarkan barang bukti narkoba dari brankas untuk dijual guna menutupi kas operasional. Sugito berdalih diperintahkan atasannya.

    “To, uang kas sudah habis, tolong kamu kondisikan,” kata Sugito menirukan perintah atasannya.

    Sebagai bawahan, Sugito menyanggupi perintah itu dan menawarkan paket 200 gram sabu ke Freddy seharga Rp 140 juta. Di sisi lain, Freddy mengaku dirinya sedang kebingungan mau menitipkan paket sabu yang ia peroleh dari dari WN Malaysia
    Ahmad. Sugito tidak keberatan paket sabu itu dititipkan di rumahnya. Baik Sugito dan Freddy sepakat dengan perjanjian
    itu.

    Pada 27 April 2011, Freddy ke rumah Sugito dan menitipkan paket sabu di lantai dua rumah Sugito. Saat itu, Sugito tidak ada di rumah dan hanya ada istri Sugito.

    Usai menaruh paket sabu di lantai dua, Freddy kemudian meninggalkan rumah Sugito dan pergi ke arah Kemayoran. Di tengah jalan, Freddy ditangkap aparat kepolisian. Freddy didapati membawa tas yang berisi 300 gram putau, 30 gram sabu dan bahan sabu 0,5 kg. Mata Freddy ditutup dan tahu-tahu sudah ada di rumah Sugito. Aparat menyita paket sabu di rumah Sugito dan memproses hukum komplotan tersebut.

    Atas perbuatannya, mereka diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) dan dihukum:

    1. Aipda Sugito dihukum 9,5 tahun penjara.
    2. Bripka Bahri dihukum 9 tahun dan 3 bulan penjara.
    3. Freddy dihukum 9,5 tahun penjara.

    “Menjatuhkan pidana selama 9 tahun 6 bulan dan denda sebesar Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana penjara sealam 6 bulan,” putus Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pada 10 Januari 2012.

    Setelah itu, Freddy menghuni LP Cipinang. Siapa nyana, ia dengan bebas mengurus bisnis narkoba di luar penjara, termasuk rencana impor 1,4 juta pil ekstasi. Kasus itu terungkap dan Freddy kemudian dihukum beserta komplotannya, yaitu:

    1. Freddy Budiman divonis mati.
    2. Ahmadi divonis mati.
    3. Chandra Halim divonis mati.
    4. Teja Haryono divonis mati.
    5. Hani Sapto Pribowo dipenjara seumur hidup.
    6. Abdul Syukur dipenjara seumur hidup.
    7. Muhtar dipenjara seumur hidup.
    8. Anggota TNI Serma Supriadi divonis 7 tahun penjara dan telah dipecat.

    Terungkap pula Freddy juga membangun pabrik sabu di kamarnya di LP Cipinang. Mereka yang terlibat dihukum dengan rincian:

    1. Wakil Kepala Pengamanan Gunawan Wibisono dijatuhi hukuman 8 tahun penjara
    2. Aris Susilo dijatuhi hukuman 5 tahun dan 10 bulan penjara
    3. Cecep Setiawan Wijaya dihukum mati di kasus impor 6 kg sabu.
    4. Haryanto Chandra belum dipublikasikan

    Kasus ini pun meledak dan Freddy dipindahkan ke Nusakambangan. Tetapi apa nyana, ia masih mengontrol jaringan narkoba miliknya dan anak buahnya. Mereka yang dihukum di kasus ini adalah:

    1. Suyatno dihukum 20 tahun penjara.
    2. Suyatno alias Gimo dihukum 20 tahun penjara.
    3. Aries Perdana dihukum 20 tahun penjara.
    4. Latief (adik Freddy Budiman) dihukum penjara seumur hidup
    (mb/detik)

    Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    BERITA TERKINI

    Bakamla Selamatkan Rombongan Kemendes yang Terombang-Ambing 8 Jam di Perairan Tarakan, Ini Kronologinya

    Metrobatam, Jakarta - Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) berhasil menyelamatkan sebagian rombongan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang...

    Ini Istana Bos First Travel yang Terlilit Utang Rp 80 M dan Tipu Calon...

    Metrobatam, Jakarta - Polisi telah menetapkan bos First Travel, Andika Surachman dan istrinya, Anniesa Devitasari Hasibuan, sebagai tersangka kasus penipuan perjalanan umrah. Meski diketahui...

    Seperti Ini Bahagianya Warga di Perbatasan yang Akhirnya Bisa Nikmati Listrik

    Metrobatam, Atambua - Sudah dua tahun ini listrik hadir di Desa Naekake, salah satu desa di wilayah perbatasan Republik Indonesia-Timur Leste di Provinsi Nusa...

    Kecewa Kontrak Kerja Tidak Diperpanjang, Mantan Pegawai Bakar Kampus Universitas Malikussaleh

    Metrobatam, Aceh Utara – Pelaku pembakaran Gedung Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal), di Gampong (Desa) Kecamatan Muara Baru, Kabupaten Aceh Utara, berinisial S mengaku kecewa...

    Bekuk 5 Bandar Narkoba di Aceh Utara, BNN Sita 40 Kg Sabu

    Metrobatam, Lhokseumawe - Badan Narkotika Nasional (BNN) membekuk 5 bandar narkoba di Aceh. Sebanyak 40 kilogram sabu disita dalam penangkapan tersebut. Awalnya, penangkapan dilakukan terhadap...

    FPI Doakan Musuh Rizieq Shihab Dihancurkan, Anis Doakan Rizieq Panjang Umur

    Metrobatam, Jakarta - Massa Front Pembela Islam (FPI) mendoakan semua musuh dan orang yang memfitnah Rizieq Shihab dalam perayaan hari ulang tahun ke-19 FPI. Berdasarkan...

    Korban First Travel Minta Pemerintah Bantu Kembalikan Uang Jemaah

    Metrobatam, Jakarta - Jemaah korban dugaan penipuan perjalanan umrah First Travel meminta pemerintah turun tangan membantu pengembalian dana jemaah yang sudah disetorkan. Hingga saat...

    Zaskia Gotik Meriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Bintan

    Metrobatam.com, Bintan - Malam Ramah Tamah dan Hiburan Rakyat Kabupaten Bintan 2017 sempena HUT Kemerdekaan RI ke 72 berlangsung sangat meriah. Hal itu terlihat,...

    DPRD Kepri Sahkan Ranperda Keuangan dan Administrasi DPRD

    Metrobatam.com, Tanjungpinang - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Riau akhirnya mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Hak-Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota...

    Dibandingkan Batam, Turis Singapura Pilih Liburan ke Johor Baru Malaysia

    Metrobatam.com, Batam - Masyarakat Singapura ternyata masih memilih Johor Baru, Malaysia sebagai destinasi akhir pekan mereka. Hal ini terlihat dari banyaknya wisatawan Singapura yang...

    Curhat Jemaah First Travel di DPR: Uang Habis hingga Ibu Meninggal

    Metrobatam, Jakarta - Korban jemaah umrah First Travel mengadu ke Komisi VIII DPR. Korban mengadu dengan kerugian yang bervariasi bahkan ada keluarganya yang meninggal...

    Ketua MUI: Indonesia Bukan Darul Islam

    Metrobatam, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'aruf Amin menyata0kan bahwa Indonesia adalah negara kesepakatan dari berbagai golongan masyarakat, hingga akhirnya merdeka...