Jadi Copet sampai Jadi Gembong Narkoba, Ini Catatan Hitam Freddy Budiman

655

Metrobatam.com, (Mb) – Gembong pengedar narkoba, Freddy Budiman, telah dieksekusi mati. Dia menjadi satu dari empat terpidana mati yang dieksekusi di Nusakambangan pada Jumat dinihari, 29 Juli 2016.

Freddy divonis mati karena dinyatakan terbukti menyelundupkan 1,4 juta butir ekstasi dari Tiongkok. Untuk menjalankan aksinya, dia menyamarkan barang haram tersebut dalam paket aquarium.

Dulunya, Freddy bekerja sebagai copet di Surabaya. Kemudian, dia merantau ke Jakarta dan menggeluti bisnis baru: berdagang narkoba. Dia kemudian mendekam di Lapas Cipinang pada 1997.

Sejak itu, dia keluar dan masuk lapas. Tahun 2009, dia kembali ditangkap dan divonis 3 tahun 4 bulan karena memiliki 500 gram sabu-sabu. Baru saja keluar, dia kembali diciduk pada 2011 karena punya ratusan gram sabu-sabu dan bahan pembuat Inex.

Meski demikian, Freddy tak kapok. Saat mendekam di Lapas Cipinang, Jakarta, dia justru semakin menjadi. Freddy mengendalikan peredaran barang haram itu dari balik jeruji besi.

Pada 2012, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengendus jaringan peredaran narkoba dari Tiongkok yang berpusat di Lapas Cipinang. Setelah dilacak, ternyata narkoba tersebut dikendalikan dari sel yang dihuni Freddy.

Pada 2013, Freddy kemudian dijatuhi vonis mati dan medekam di Lapas Cipinang. Tapi rupanya, dari dalam penjara itu, Freddy masih mengendalikan peredaran narkoba. Dia bahkan memiliki sel khusus di Lapas Cipinang, yang sangat mewah, berisi perabotan dan alat elektronik.

Freddy kemudian membuat gempar masyarakat setelah diketahui kerap menggelar pesta seks dan narkoba di lapas tersebut. Sehingga dipindah ke Nusakambangan pada Juli 2013. Saat dipindah, dia masih bandel, membawa tiga paket sabu yang diselipkan di celana dalam.

Dipindah ke Nusakambangan yang punya pengamanan maksimum bukan berarti Freddy berhenti beraksi. Dari pulau di selatan Jawa itu, dia masih bisa menjadi otak “pabrik” narkoba di dalam Lapas Cipinang.

Bisnis Freddy ini kemudian terbongkar pada Agustus 2013. Dia menjadikan sel sebagai pabrik ekstasi dan sabu. Freddy mendapatkan sejumlah alat pembuat ekstasi dengan menyuap sipir.

Freddy juga terlibat jaringan narkoba internasional. Dia masuk ke dalam “poros” Jakarta-Belanda. Freddy cukup memakai BlackBerry untuk menjalankan aksinya. Uang miliaran rupiah pun mengalir ke kantong Freddy yang mendekam di penjara.

Bisnis Freddy kemudian “dibekukan”. Dia dilarang keras menggunakan fasilitas apapun selain yang ada di sel. Dengan begitu, Freddy tidak lagi mampu menjalankan bisnis terlarang.

Beberapa bulan sebelum eksekusi mati, Freddy sempat mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Dalam berkas PK, Freddy mengaku telah bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.

Namun Mahkamah Agung menolak permohonan itu. Dan Freddy harus menghadapi regu tembak Polri di Nusakambangan. Freddy pun tamat.

 

Mb/Draem

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Polisi Tangkap Supir Taksi Online Pengantar ‘Penumpang Tuyul’

Metrobatam, Makassar - Petugas Subdit Cyber Crime Polda Sulawesi Selatan menangkap tujuh pemuda karena memanipulasi sistem elektronik perusahaan angkutan daring, Grab, akhir pekan lalu. Tujuh...

Gunung Sinabung Kembali Erupsi, Semburkan Abu Vulkanik 3 Km

Metrobatam, Medan - Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara masih menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pagi ini, Gunung Sinabung kembali erupsi. Petugas Pos Pengamat Gunung Sinabung,...

HUT ke-71 Megawati, PDIP Suguhkan Teater Kebangsaan

Metrobatam, Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menampilkan teater kebangsaan bertajuk 'Satyam Eva Jayate' untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-71 sang Ketua...

Bintan akan Terima DAK Rp6,2 Miliar dari Pemerintahan Pusat untuk Pendidikan

Metrobatam.com, Bintan - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan Tamsir, M.Pd mengatakan bahwa pada tahun 2018 ini, setidaknya Dana Alokasi Khusus Pendidikan sebesar 6,2 Milyar...

Kecanduan Judi Online, Karyawan Ini Gelapkan Uang Perusahaan

Metrobatam.com, Jember - Saat ini banyak bertebaran situs judi online yang memasang deposit sangat murah, bahkan sangat tidak masuk akal. Jika tak hati-hati, akan...

Jaksa Tampilkan Percakapan Johannes Marliem dan FBI di AS, Seperti Ini Isinya

Metrobatam, Jakarta - Percakapan Johannes Marliem (bos PT Biomorf Lone Indonesia dan PT Biomorf Mauritius) dengan anggota FBI di Los Angeles, Amerika Serikat (AS),...

Usai Saling Pecat, Konflik Hanura Kini Berujung Saling Lapor Polisi

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) kubu Manhattan melaporkan tiga orang kader kubu Ambhara yakni Ari Mularis, Sudewo, dan...

WNI Diduga Ikut ISIS Ditangkap di Malaysia, Mabes Polri Tak Mau Ikut Campur

Metrobatam, Jakarta - Polri tak mau ikut campur atas tertangkapnya Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia yang diduga terlibat ke dalam jaringan ISIS. "Kalau itu...

Penjual Pulau RI di Situs Online Sudah Dikontak KKP

Metrobatam, Jakarta - Website privateislandonline.com memasang iklan penjualan pulau di Indonesia. Menanggapi hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan telah menghubungi sang penjual. Dirjen...

Keceriaan Ibu-ibu PKK di Fisherism Tanjungriau Batam

Metrobatam.com, Batam - Ibu-ibu PKK Sei Temiang mengikuti kelas edukasi menghias cookies yang diadakan BP Batam bekerjasama dengan UMKM, bertempat di Fisherism Tanjungriau 22...

Polisi Tembak Mati Tiga Anggota Jaringan Narkoba Internasional

Metrobatam, Medan - Personel Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara, menembak mati tiga anggota sindikat narkoba internasional Malaysia-Indonesia, dalam sebuah drama penangkapan yang dilakukan...

Siap-siap, 31 Januari Gerhana Bulan Total Bakal Sapa Indonesia

Metrobatam, Jakarta - Gerhana Bulan Total diprediksi terjadi pada 31 Januari 2018. Fenomena alam tersebut bisa diamati di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Berdasarkan siaran...
BAGIKAN