Kapolda Kepri Melarang Leleng Bahan Peledak yang Disita

259

Metrobatam.com, Karimun – Kapolda Kepri Brigjen Pol Sam Budigusdian melarang pelelangan bahan peledak yang disita Bea Cukai Kepri. Pasalnya, pemenang lelang bahan peledak sebelumnya ternyata adalah pelaku penyelundup itu sendiri dengan mengatasnamakan orang lain.

“Saya melarang bahan peledak ini dilelang. Karena, pemenang lelang sebelumnya ternyata penyelundup itu sendiri yang memakai perusahaan orang lain. Misalnya, saya menyelundupkan barang, begitu ada lelang saya beli pakai nama orang. Itu hasil penyelidikan saya sendiri,” ungkap Kapolda didampingi Plt Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan Kakanwil DJBC Khusus Kepri Parjiya saat ekpos penangkapan ini.

Dijelaskan, dia bukan arogan melelang proses lelang bahan peledak. Namun, jika itu dilakukan maka berapa banyak kerusakan alam Indonesia yang diakibatkan dengan beredarnya ammonium nitrate sebagai bahan dasar pembuat bom ikan. Berapa banyak biota laut yang akan hancur karena ulah manusia yang menggunakan bahan peledak.

“Ketika ada proses lelang itu, saya larang jangan diserahkan (ammonium nitrate). Lalu ada yang bertanya, kenapa Kapolda kok arogan melarang, bukan arogan saudaraku. Tapi coba lihat, berapa berapa kerusakan lingkungan yang akan terjadi, berapa banyak biota laut yang mati karena bahan peledak ini,” tutur Kapolda.

Kapolda mengatakan, besarnya resiko itulah salah satu alasan kenapa dia melarang menyerahkan ammonium nitrate kepada pemenang lelang. Lebih baik kembalikan saja uang hasil lelang kepada si pemenang daripada uangnya masuk ke kas negara tetapi peruntukkan ternyata untuk menimbulkan kerusakan lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Kapolda menyebut kalau Kanwil DJBC Khusus Kepri telah melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang disinyalir tujuan akhir dari ini semua ternyata masuk ke kelompok-kelompok yang membuat bahan peledak dari bahan baku ammonium nitrate.

“Sangat tidak lazim, ketika orang membuat pupuk dari bahan ammonium nitrate ini, bahkan sampai harus diimpor secara ilegal dari Malaysia untuk dibawa ke pulau-pulau terpencil di Sulawesi sana. Kalau hitungan ekonomis kan sangat tidak wajar. Makanya, ada dugaan ammonium nitrate ini untuk keperluan bom ikan,” jelasnya.

Menurutnya, pelaku penyelundupan bahan peledak jenis ammonium nitrate tersebut bakal dikenakan Undang-undang Darurat tentang Terorisme. “Kalau Bea Cukai akan menindak pelaku dan kapal terkait penyelundupan, maka polisi akan menindak pelaku dengan UU Darurat. Penyelidikan dilakukan secara terpisah,” pungkasnya.

Sebelumnya, aparat Bea Cukai Kepulauan Riau menangkap Kapal Motor (KM) Harapan Kita B.29 No.769 yang ingin menyelundupkan 51 ton atau 21.050 karung bahan peledak atau ammonium nitrate senilai Rp6,6 miliar asal Pasir Gudang, Malaysia.

KM Harapan Kita ditangkap kapal patroli BC-20005 dengan komandan patroli Erwin Bangun MT di peraian sekitar 30 mil Timur Laut Berakit, Sabtu (16/4), kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepulauan Riau (Kepri) Parjiya di Kanwil BC Kepri, Meral, Kabupaten Karimun, Kepri, Rabu (20/4).

“Berdasarkan keterangan kru kapal, ammonium nitrate tersebut hendak dibawa ke Sulawesi,” jelas dia didampingi Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi R Evy Suhartantyo. Saat diperiksa petugas, nakhoda Hsnd tidak dapat menunjukkan dokumen pelindung muatan yang sah, sehingga petugas patroli menarik kapal tersebut ke Kanwil Ditjen BC Khusus Kepri di Meral, Kabupaten Karimun.

Ia mengatakan, ammonium nitrate muatan kapal tersebut disamarkan dengan cara menggunakan kemasan luar yang bertuliskan “Mitsubishi Japan”, sedangkan kemasan asli berada di bagian dalam yang bertuliskan “Ammonium Nitrate”. “Tujuannya untuk mengelabui petugas,” kata dia.

Ia menjelaskan, ammonium nitrate merupakan bahan baku peledak yang termasuk barang larangan dan pembatasan (lartas). Izin impor dan pengangkutan ammonium nitrate diatur secara khusus oleh pemerintah.

“Karena masuknya secara ilegal, maka bukan tidak mungkin penggunaannya juga untuk kegiatan ilegal, seperti peledakan ikan, termasuk juga aksi terorisme yang dapat mengancam pertahanan dan keamanan negara,” kata dia.

Perkiraan nilai ammonium nitrate tersebut, lanjut dia, sekitar Rp6,6 miliar dengan asumsi harga Rp130.000 per karung yang masing-masing berukuran 25 kilogram.

R Evy Suhartantyo menambahkan, nakhoda dan lima ABK ditetapkan sebagai tersangka dengan pelanggaran Pasal 102 huruf (a) Undang-undang No 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, yaitu mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifest, dapat diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

“Ke enam tersangka dititipkan penahanannya di Rutan Tanjung Balai Karimun. Sedangkan kapal dan muatannya kita limpahkan ke bidang penyidikan dan penanganan barang hasil penindakan,” ucap Evy Suhartantyo.

Sumber: Haluankepri.com

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Terciduk, Pengemis Ini Bawa Uang Rp 43 Juta

Metrobatam, Tasikmalaya - Aparat Satpol PP Kota Tasikmalaya kaget saat menciduk Epon (49). Pengemis tersebut yang kedapatan membawa gepokan uang dan sejumlah perhiasan emas...

Longsor Brebes, Tim SAR Temukan Potongan Jasad Korban

Metrobatam, Jakarta - Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan Polri, TNI dan Basarnas menemukan tiga potongan tubuh yang diduga merupakan korban longsor Bukit Lio,...

Terdakwa Bom Thamrin Aman Abdurrahman Tolak Baca Eksepsi

Metrobatam, Jakarta - Oman Rochman alias Aman Abdurrahman, terdakwa kasus teror bom Thamrin tahun 2016 menolak membacakan nota keberatan atau eksepsi di depan majelis...

Wiranto dan Tito Sepakat Batalkan Jenderal Jadi Pj Gubernur

Metrobatam, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto membatalkan usulan jenderal polisi sebagai Penjabat (Pj) Gubernur setelah berkoordinasi dengan Kapolri Jenderal...

Duet Susi-Sri Mulyani Selamatkan Bayi Lobster Rp 14,4 M

Metrobatam, Tangerang - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberikan keterangan terkait penggagalan penyelundupan benih lobster yang rencananya...

PPP Duga Ada Orang Kuat di Balik Penyerangan Tokoh Agama, Partai Rame-rame Membantah

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy menduga ada orang kuat yang mendesain penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama yang...

Ajak 122 Advokat, PSI Bakal Gugat UU MD3 ke MK

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie mengklaim telah mendapat dukungan dari 122 advokat untuk mengajukan judicial review atau uji...

KSP Sebut Konsultan Politik Berperan Ciptakan Kampanye SARA

Metrobatam, Jakarta - Deputi bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP) Eko Sulistyo menyebut konsultan politik memiliki peran penting dalam menciptakan...

Pemerintah Tegaskan Tarif Listrik Tidak Naik Hingga 2019, PLN Ingin Turun

Metrobatam, Jakarta - Pemerintah berkomitmen tidak menaikkan tarif listrik hingga 2019 mendatang. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam acara Renewabe...

KPK Beri Pengawalan untuk Jamin Keamanan Novel Baswedan

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi telah mempersiapkan pengawalan terhadap Novel Baswedan sekembalinya ke Indonesia usai menjalani perawatan di Singapura selama 10 bulan terakhir....

Setnov Bela Fahri Hamzah soal Tudingan Nazaruddin

Metrobatam, Jakarta - Terdakwa korupsi proyek e-KTP Setya Novanto membela Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang dituding mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin...

TKI di Taiwan Tewas Misterius, Sempat Tulis Surat Wasiat dan Siaran Live di Facebook

Metrobatam, Lampung - Seorang TKI pria yang bekerja di Taiwan dilaporkan tewas bunuh diri. Pria berinisial WY asal Lampung Timur itu dikabarkan nekat mengakhiri...
BAGIKAN