Metrobatam, Maluku Tengah – Pemerintah pusat akan mengirim bantuan makanan dan lainnya kepada warga di pegunungan Morkelle di Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, Provinsi Maluku, yang dilanda kelaparan. Setidaknya tiga orang-di antaranya dua balita-anggota komunitas adat terpencil Mause Ane yang tinggal di wilayah itu meninggal dunia akibat kekurangan makanan karena gagal panen.

Bantuan awal makanan dan lainnya diperkirakan baru tiba pada Kamis (26/7) karena keberadaan komunitas itu yang tinggal terpencar di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau. “InsyaAllah bantuan mulai disalurkan Rabu,” kata Menteri Sosial Idrus Marhan, dalam keterangan di Jakarta, Selasa 24 Juli 2018.

   

Kelaparan yang dialami oleh sekitar 170 warga komunitas adat terpencil itu dilaporkan terjadi sejak awal Juli lalu, tetapi baru diketahui oleh pemerintah setempat kira-kira dua minggu kemudian.

Agar tidak mati kelaparan, sebagian warga yang mendiami kawasan hutan di pegunungan di Kabupaten Maluku Tengah itu dilaporkan sempat mengganjal perutnya dengan makan dedaunan, kata seorang pendeta.

“Mereka bertahan hidup dengan makan daun,” kata pimpinan Gereja Protestan Maluku di Kabupaten Maluku Tengah, Pendeta Hein Tualena, kepada BBC News Indonesia, Selasa (24/7), mengutip keterangan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maluku Tengah yang menemui warga di lokasi.

Tetapi tidak semua bisa bertahan dari rasa lapar, dan akibatnya tiga orang kemudian meninggal dunia, dua di antaranya adalah balita, awal Juli lalu, kata Kepala Desa Manco Rendah, atau disebut Raja Maneo, Nikolas Boiratan.

Berdasarkan pengakuan warga setempat, menurut Boiratan, kekurangan pangan sudah terjadi dua bulan sebelumnya akibat serbuan hama tikus dan babi di kebun jagung dan ladang padi mereka.

“Tidak ada makanan lagi, sebab mereka punya kebun kena hama babi dan tikus,” ungkap Nicolas Boiratan, Selasa (24/7) melalui sambungan telefon.

Kehadiran hama babi dan tikus ini, lanjutnya, tidak terlepas dari kebakaran yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Seram sekitar tiga tahun silam. “Pohon bambu ikut terbakar. Jadi tidak ada bahan untuk buat pagar, dan akibatnya babi bisa masuk,” ungkapnya.

Kawasan Terisolasi

Warga suku Mausu Ane, yang diperkirakan berjumlah 170 orang, tinggal terpencar setidaknya di tiga lokasi di pegunungan Morkelle, yaitu di bantaran sungai Kobi, sungai Tilupa dan Lailaha. Mereka juga hidup berpindah-pindah dan melakoni kehidupan berkebun dan berburu.

Beberapa laporan menyebutkan, untuk menuju lokasi mereka tinggal, dibutuhkan perjalanan lebih dari sehari dari kota Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah, dengan kendaraan dan kemudian jalan kaki.

“Biasanya kami menempuh perjalanan, termasuk istirahat, sekitar 18 sampai 20 jam, dan itu berjalan kaki. Tidak ada sarana transportasi apa pun,” kata pegiat LSM Himpunan Maluku Untuk Kemanusiaan, (Humanum) Marlien Elvira Marantika, kepada BBC News Indonesia, Selasa (24/7).

Para pegiat Humanum setidaknya sebulan sekali melakukan semacam kegiatan pendampingan kepada masyarakat adat Mause Ane di wilayah itu. “Kami setidaknya tinggal sepekan di sana,” kata Elvira.

“Di sana tidak ada puskesmas pembantu. Biasanya dinas kesehatan setempat melakukan pengobatan tiga dan enam bulan sekali ke daerah pegunungan itu,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, di lokasi tempat tinggal para suku Mause Ane tidak ada fasilitas sosial lainnya. “Ada satu SD yang dikelola sebuah yayasan, tapi kondisinya di bawah standar,” ujar Elvira.

Dahulu di lokasi mereka tinggal, lanjutnya, ada instalasi air bersih, tetapi kemudian rusak akibat kebakaran tiga tahun silam.

“Sekarang, mereka ambil air dari sungai yang ditampung ke bak-bak lama,” jelasnya.

Kendala lain yang dianggap membuat orang-orang dari suku Mause Ane ini agak kesulitan mendapatkan akses bantuan dari luar adalah kecenderungan sikap mereka yang mencurigai ‘orang luar’.

Selain wilayah tinggal mereka yang sulit dijangkau, menurut pimpinan Gereja Protestan Maluku di Kabupaten Maluku Tengah, Pendeta Hein Tualena, mereka sulit untuk ditemui.

“Untuk ketemu mereka agak sulit. Mereka tidak mau berbaur dengan masyarakat lain. Kalau ada orang baru, mereka tidak mau menjumpai, atau aparat keamanan mereka tidak mau menjumpai,” ungkap Hein Tualena, Selasa (24/7).

“Dan untuk mengumpulkan mereka sangat sulit, harus negosiasi dulu,” tambahnya. “Mereka hidup menyendiri.”

Anggapan seperti ini juga dilontarkan Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi bidang pencegahan penyakit dari Kantor Dinas Kesehatan Maluku Tengah, Hapsa Salampessy.

“Karena masyarakatnya tidak pernah berhubungan dengan di luar suku mereka, sehingga kami tidak pernah tahu tentang keberadaan mereka,” kata Hapsa, Selasa (24/07).

Dan saat kasus kelaparan ini mulai terkuak, Kantor Dinas Kesehatan Maluku Tengah pernah berupaya melakukan kontak dengan orang-orang itu, tetapi menemui kendala, tambahnya. “Kita masuk hutan, dan kita mencari-cari, karena tidak ada titik tertentu yang bisa kita temukan. Untuk menemukan mereka agak sulit, kecuali mereka mendatangi kita,” kata Hapsa.

Bagaimanapun, setelah kasus kelaparan di Pulau Seram, Maluku, menjadi perhatian nasional, pemerintah akhirnya turun tangan dengan memberikan bantuan yang dipelopori Kodam XVI Pattimura dan Polda Maluku.

Terungkapnya kasus kelaparan di Maluku ini mengingatkan kasus gizi buruk di Asmat, Papua, yang mengakibatkan lebih dari 70 warganya meninggal dunia, awal Januari 2018 lalu. (mb/okezone)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Bintan Dapat Adipura Lagi, Ini Komentar Riny Fitrianti

Metrobatam.com, Bintan - Kabupaten Bintan berhasil mendapatkan Piala Adipura untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Penghargaan tersebut dianugerahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia...

Jalan Rusak di Selayar, Masyarakat Berharap Perhatian Pemkab Lingga

Metrobatam.com, Lingga - Perjuangan yang keras dalam menuntut ilmu, walaupun banyak hambatan yang menghadang murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 005 Dusun II Selayar tetap...

Resmi Dibuka, Turnamen Piala Senayang 2019 Diharapkan Lahir Bibit Berprestasi Atlet Lingga

Metrobatam.com, Lingga - Setelah sebelumnya vakum untuk beberapa tahun kini di hari Selasa (15/1) kemarin Turnamen Piala Senayang 2019 resmi dibuka oleh Staf Ahli...

Polsek Tanjungpinang Barat Gelar Sosialisasi Cara Menghadapi Cuaca Ekstrim

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Demi menghindari dampak yang tidak diinginkan akibat cuaca ekstrim. Polsek Tanjungpinang Barat menggelar sosialisasi perubahan cuaca ekstrim bersama warga Teluk Keriting. Kapolsek Tanjungpinang...

Disebut Prabowo BUMN Bangkrut, Ini Curhatan Dirut Garuda

Metrobatam, Jakarta - Calon Presiden Prabowo Subianto belum lama ini melontarkan penyataan yang cukup menghebohkan. Dia bilang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) satu persatu...

Lelang Jabatan Pemprov Jabar, 114 Orang Berebut 15 Posisi

Metrobatam, Jakarta - Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat meloloskan 114 pendaftar untuk melanjutkan proses seleksi terbuka pengisian 15 jabatan pimpinan tinggi pratama...

BPN Prabowo Ingin Selesai Damai, Kill the DJ Ngaku Belum Ditemui

Metrobatam, Yogyakarta - Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di DIY menginginkan agar perkara lagu 'Jogja Istimewa' diselesaikan dengan musyawarah. Namun Marzuki Mohamad atau...

Yusril Ungkap Alasan Masuk Tim Pakar Debat Capres Jokowi

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengonfirmasi klaim Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf yang menyebut namanya masuk dalam...

Awak Maskapai Malindo Air Terlibat Penyelundupan Narkoba ke Australia

Melbourne - Polisi di Melbourne berhasil membongkar sindikat narkoba internasional yang menggunakan awak maskapai Malindo Air dari Malaysia untuk menyeludupkan narkoba ke Australia selama...

Polisi Ungkap Gudang Narkoba di Apartemen Park View Jakarta

Metrobatam, Jakarta - Anggota Unit Narkoba Polsek Kembangan Polres Metro Jakarta Barat mengungkap gudang penyimpanan narkoba di Apartemen Park View, Kembangan Jakarta Barat. Kepala Polsek...

Ikatan Dai Aceh Sambangi KPU, Koordinasi soal Tes Baca Alquran

Metrobatam, Jakarta - Ikatan Dai Aceh menyambangi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pagi ini. Mereka ingin berkoordinasi soal tes baca Alquran bagi capres-cawapres 2019. "Buat ngomongin...

Pesta Sabu , Aris Idol Ditangkap Polisi

Metrobatam, Jakarta - Satuan Reserse Narkoba Polres Tanjung Priok menangkap Januarisman Runtuwenen (JR) alias Aris 'Indonesia Idol' atas kasus penyalahgunaan narkotika jenis sabu. Kabid...