Kekurangan Makanan dan Obat, Rohingya di Rakhine Tunggu Bantuan

7596

Yangon – Warga Rohingya Sebagian warga Rohingya tinggal di perkampungan seperti di Myoma KaNyinTan, Maungdaw, Rakhine ini. Sebagian lainnya menempati kamp-kamp khusus. (NYEIN CHAN NAING/EPA)

Ratusan ribu orang Rohingya di Rakhine, Myanmar, merasa khawatir kekurangan pangan dan obat-obatan setelah operasi lembaga kemanusiaan di negara bagian itu dibatasi, kata pekerja sosial dan warga.

Sekitar 120.000 orang Rohingya yang tercatat sebagai pengungsi di Rakhine dan ditempatkan di kamp-kamp tergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Di samping mereka yang tinggal di kamp-kamp, ratusan ribu warga Rohingya lainnya tinggal di desa-desa tetapi akses keluar dari perkampungan dibatasi.

Sebelum konflik terbaru, jumlah orang Rohingya di Myanmar ditaksir sekitar satu juta jiwa, tetapi lebih dari 370.000 di antara mereka telah melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, selama sekitar tiga minggu terakhir.

Kini mereka juga memerlukan bantuan pangan setelah pergerakan mereka semakin dibatasi menyusul serangan gerilyawan Rohingya (ARSA) terhadap pos-pos polisi di Rakhine utara.

Militer Myanmar kemudian melancarkan operasi militer di sana, yang oleh para pejabat Myanmar dikatakan sebagai ‘operasi pembersihan terhadap teroris’.

“Karena terus berlanjutnya konflik dan juga karena kondisi kemanusiaan yang semakin menurun, maka sekarang kondisinya sama antara orang-orang yang berada di dalam kamp dan orang-orang yang tinggal di desa-desa,” jelas Deni Kurniawan, Koordinator Program Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) untuk Myanmar.

“Mereka yang berada di luar kamp juga memerlukan bantuan makanan karena mereka tidak bisa bergerak ke kota untuk mencari makanan.”

PKPU tercatat sebagai salah satu lembaga kemanusiaan dari Indonesia yang telah lama beroperasi di Rakhine, termasuk membangun sekolah, namun untuk sementara menghentikan operasi karena pemerintah Negara Bagian Rakhine ‘melarang aktivitas kemanusiaan’.

“Tidak ada makanan dan obat-obatan bagi warga di kampung kami sekarang,” kata Maung, seorang warga Rohingya di pinggiran ibu kota Negara Bagian Rakhine, Sittwe, dalam wawancara melalui telepon pada Selasa (12/09).

Ditambahkan oleh Maung bahwa petinggi militer setempat hari ini mendatangi desanya dan mengatakan bahwa warga dilarang menggunakan pengeras suara di masjid dan tidak boleh berkumpul dalam jumlah banyak.

Pembatasan dan larangan

Pemerintah Negara Bagian Rakhine mengatakan pihaknya “membatasi” dan bukan melarang serta merta aktivitas lembaga-lembaga kemanusiaan internasional.

Dikatakan oleh Sekretaris Pemerintah Negara Bagian Rakhine, Tin Maung Swe, bahwa pembatasan dilakukan untuk memudahkan koordinasi dan pengawasan.

Dengan peraturan ini, lanjutnya, setiap LSM asing harus mendapat izin dari kementerian-kementerian terkait di tingkat pemerintah pusat dan juga izin dari pemerintah negara bagian.

Anak-anak Rakhine Seorang anak dari etnik Rakhine berada di kapal setibanya di Pelabuhan Sittwe dari Maungdau pada Sabtu (09/09). (NYUNT WIN/EPA)

Namun, menurut Koordinator Program PKPU untuk Myanmar Deni Kurniawan, yang terjadi adalah larangan.

“Saat ini pemerintah Negara Bagian Rakhine melarang aktivitas kemanusiaan di Rakhine, bahkan untuk hal yang sederhana saja seperti distribusi makanan saat ini masih dilarang,” jelasnya.

“Larangan berlaku untuk semua, bahkan WFP, UNHCR dan UNICEF pun sekarang berhenti dulu sementara operasinya.”

Pengungsi tidak hanya Rohingya

Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine juga dibanjiri pengungsi etnik Rakhine yang pada umumnya beragama Buddha. Mereka mengungsi dari daerah-daerah konflik di bagian utara seperti Maungdaw.

“Jadi etnik Rakhine, yang beragama Buddha, yang ketakutan terhadap konflik terjadi maka mereka mengungsi ke kota Sittwe tapi tidak di tempat-tempat pengungsian.

“Biasanya mereka berada di rumah-rumah keluarga mereka, atau pemerintah memberikan tempat sementara tapi tidak mencolok sebagai kamp pengungsian,” tutur Deni Kurniawan, yang baru pekan lalu kembali dari Sittwe dan sekarang berada di Yangon.

Rakhine, atau dikenal dengan nama Arakan oleh kelompok Rohingya, merupakan negara bagian termiskin di Myanmar dengan jumlah penduduk 3,1 juta berdasarkan sensus pada 2014.

Sebagian besar adalah suku Rakhine yang mayoritasnya adalah pemeluk Buddha 96,2%, penduduk yang beragama Kristen 1,8 dan 1,4% Muslim tetapi tidak mencakup orang-orang Rohingya.

Sensus penduduk tidak mencakup Rohingya karena dianggap bukan warga negara, tetapi digolongkan sebagai pendatang gelap dari Bangladesh walaupun mereka sudah tinggal di Rakhine dari generasi ke generasi. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

‘Politik Identitas, Bekal Bagi Parpol yang Miskin Gagasan’

Metrobatam, Jakarta - Banyaknya isu terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang mewarnai kancah perpolitikan Indonesia tak terlepas dari peran partai-partai politik yang...

Digugat Anak Kandungnya Rp.1,6 Miliar, Nenek Cicih: Saya Maafkan Mereka

Metrobatam, Bandung - Kebesaran hati ditunjukkan Cicih (78). Meski digugat empat orang anaknya, nenek Cicih masih tulus memaafkan mereka. "Saya sudah memaafkan mereka. Kasih sayang...

Ditanya Kondisi NT, Ini Jawaban Orangtua Penyerang Kiai di Lamongan

Metrobatam, Lamongan - Kiai Hakam Mubarok, korban penyerangan Pengasuh Ponpes Karangasem Lamongan, sempat bertemu orangtua NT. Dalam pertemuan itu Kiai Hakam sempat menanyakan kondisi...

Polisi Ringkus 5 Pelaku Begal Sadis Terhadap Wartawan di Batam

Metrobatam.com, Batam - Setelah sempat buron, 5 dari 7 pelaku begal sadis terhadap Handes Silaban wartawan Media Lentera Indonesia di Batam akhirnya berhasil dibekuk...

Komisi III DPRD Kepri Bersama Dinas Perkim Tinjau Lokasi untuk Pembangunan Infrastruktur di Mako...

Metrobatam.com, Batam - Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman ( Perkim ) Kepri bersama Komisi III Bidang Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepri, Selasa...

Anggota DPRD Kepri dan Anggota DPRD Batam Hadiri Musrenbang Tingkat Kelurahan

Metrobatam.com, Batam - Musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau dilaksanakan di Kantor lurah Rempang Cate, Rabu,...

Bank BTN Siap Membantu Sertifikat Perum Air Mas

Metrobatam.com, Batam - Warga perumahan Air MasĀ Mandar Paradise, Batuaji, Batam, Kepulauan RiauĀ  Lakukan aksi demo di Bank BTN untuk minta keterangan sertifikat rumah mereka,...

Sebarkan Isu akan Ada Pembantaian Ulama oleh PKI, Guru SMA di Banten Ditangkap Polisi

Metrobatam, Banten - Polisi menangkap guru SMA bernama Yayi Haidar Aqua, pemilik akun Facebook Ragil Prayoga Hartajo. Yayi diduga menyebarkan hoax soal adanya pasukan...

Ratusan Advokat Bela Firman Wijaya Lawan SBY

Metrobatam, Jakarta - Sekitar 400 orang advokat secara sukarela membentuk 'Tim Advokasi Untuk Kehormatan Profesi' membela pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya untuk menghadapi proses...

KPK Sebut Upaya Nazaruddin Seharusnya Didukung

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut upaya mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin mengungkap nama-nama yang diduga terlibat kasus korupsi seharusnya...

Sambil Santap Nasi Jambal, Mega-Jokowi Bertemu di Batu Tulis Semalam

Metrobatam, Bogor - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Joko Widodo di Istana Batu Tulis Bogor, semalam. Pertemuan hampir dua...

Wiranto Tegaskan Aparatur Negara Harus Netral dalam Pilkada

Metrobatam, Jakarta, - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengingatkan bahwa aparatur negara, baik sipil maupun TNI dan Polri, serta penyelenggara...
BAGIKAN