Keluarga Korban Bantah Klaim Lion Air soal Upaya Merangkul

oleh

Metrobatam, Jakarta – Lion Air menyatakan telah ‘merangkul’ keluarga korban PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang. Orang tua Shandy Johan Ramadhan, Dody Widodo, membantah.

Dody menegaskan tidak pernah merasakan ‘rangkulan’ yang diklaim telah diberikan Lion Air. Dia pun mengaku heran atas pernyataan Lion Air tersebut.

“Cara merangkulnya seperti apa yang saya bingung ya,” ujar Dody saat dihubungi detikcom, Selasa (6/11/2018).

Dody mengungkapkan selama ini Lion Air tak pernah berusaha ‘menjemput bola’ dalam hal pemberian informasi kepada keluarga korban. Bahkan ucapan belasungkawa secara langsung dengan mendatangi keluarga korban juga tidak pernah dirasakan Dody.

“Hal-hal seperti itu tidak pernah saya rasakan dari Lion. Bicara pun tidak, ikut belasungkawa. Itu hanya press release yang sifatnya publish,” ujarnya.

“Tidak ada yang langsung jemput bola. Saya berani bersumpah bahwa saya tidak bohong. Tidak pernah ada ucapan belasungkawa sama sekali. Apakah itu yang dibilang merangkul?” imbuh Dody.

Dody juga mengaku selama ini pendampingan yang disebut Lion telah diberikan kepada keluarga korban juga tidak pernah dirasakannya. Padahal dia berulang kali juga telah ‘berbesar hati’ untuk ‘menjemput bola’ dengan meminta informasi kepada pihak Lion.

“Apakah kami harus terus menerus menelepon crisis center. Padahal mereka janji akan melakukan pendampingan bagaimana syoknya istri anak saya yang sedang hamil 7 minggu, bagaimana syok adiknya. Hal-hal seperti itu tidak pernah saya rasakan dari Lion,” ungkapnya.

Dody pun mengaku sangat kecewa terhadap sikap Lion Air tersebut. Padahal pihaknya tidak menuntut lebih. Hanya perhatian secara pribadilah yang dia dan keluarganya harapkan.

“Saya ingin uluran tangan. Saya tidak akan menuntut lebih, kecuali KNKT bicara lebih. Nanti baru kita lihat soal hukumnya seperti apa. Tapi pertama ini rangkulannya. Mereka harus bertanggung jawab menjelaskan seperti apa tidak langsung di TV seperti itu. Pendekatan pribadi itu akan sangat membantu. Bukan karyawannya aja yang diperhatikan. Tapi kami ini juga penumpang, anak saya yang jadi konsumen mereka,” tuturnya.

“Nggak ada sama sekali perhatian dari Lion. Itu lebih berharga dari nilai. Dan kami tentu bisa diajak kerja sama,” sambung Dody.

Dody juga mengatakan bukan persoalan materi yang diharapkan dari Lion. Dia berharap, ke depan, Lion dapat secara langsung ‘merangkul’ keluarga korban.

“Cara mendapat asuransi, klaim asuransi juga nggak ada penjelasan. Ke depan tidak terjadi lagi. Masa kita sudah jadi korban, kita terus dianiaya, dianggap enteng penyelesaian dengan uang. Uang tunggu dan lain-lain. Nggak semudah itu,” kata Dody.

Sebelumnya, Lion Air memastikan telah ‘merangkul’ keluarga korban sejak awal dan memenuhi kewajiban mereka. Kepastian itu diungkapkan setelah Dody mengaku tak pernah dihubungi maskapai penerbangan itu.

“Pasca-JT 610, itu Lion Air sudah mengakomodasi dalam hal penanganan terhadap keluarga. Jadi kita datangkan kemudian dari segi transportasi dan akomodasi. Itu sudah kita tanggung kemudian Lion Air juga memberikan uang tunggu Rp 5 juta,” kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro saat dihubungi, Senin (5/11) malam.

“Kemudian nanti ada uang pemakaman Rp 25 juta. Terkait dengan santunan, santunan itu kita mengacu sesuai dengan UU, sesuai dengan Permen 77,” tuturnya.

Selain itu, para petugas Lion Air, sambung Danang, terus bertugas untuk melayani keluarga korban, baik itu di posko RS Polri, hotel di Cawang, maupun di posko Pelabuhan Tanjung Priok.

“Terkait bagaimana upaya merangkul, saya menafsirkan begini. Satu, di sini kami tetap melakukan pendampingan atau family assistance. Bentuknya seperti apa. Satu, psikologi. Terus yang kedua semacam konseling. Ketiga lebih ke religi,” ujarnya. (mb/cnn indonesia)