Kisah Sedih dari Kamp Pengungsi Vietnam

Metrobatam.com, Batam – Perang Vietnam yang berlangsung tahun 1955-1975 membawa banyak korban berjatuhan dan pengungsi dengan jumlah yang tidak sedikit. Banyak dari mereka yang mengungsi ke Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Ketika masih di Sekolah, kita banyak mendengar dan belajar sejarah tentang ratusan ribu pengungsi Vietnam Selatan yang melarikan diri meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi ke negara lain pasca perang di Vietnam. Saat peristiwa itu terjadi, banyak pengungsi meninggalkan negaranya dengan perahu-perahu dengan kondisi memprihatinkan. Satu perahu bisa diisi 40-100 orang.

Berbulan-bulan para pengungsi ini terombang-ambing di tengah perairan Laut China Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan, ada yang terdampar di pulau karang tanpa bahan makanan, dan ada sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang, Tanjung Pinang, Kepulauan Natuna dan pulau-pulau di kepulauan Riau.

Karena banyak cerita mengenai para pengungsi ini, bahkan ada yang difilmkan, bagaimana penderitaan para pengungsi itu untuk bertahan hidup selama pengungsian, bahkan di tempat penampungan. Maka sayapun terdorong ingin mengunjungi pulau Galang, di Provinsi Kepulaun Riau, di mana terdapat tempat penampungan sementara bagi para pengungsi tersebut.

UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas di sana, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, bahkan penjara, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan penjagaan keamanan.

Juga untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin yang menjangkiti para pengungsi Vietnam, yang dikenal dengan Vietnam Rose. Di tempat ini, para pengungsi meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979-1996, hingga akhirnya mereka mendapat suaka dari negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam.

Jarak Pulau Galang dari kota Batam sekitar 50 km yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Dalam perjalanan menuju pulau Galang, kami melewati jembatan Barelang, jembatan penghubung pulau Batam, Pulau Rempang dan pulau Galang. Jembatan megah ini diprakarsai oleh BJ. Habibie.

Tidak Terawat

Sesampai di sana, suasana sepi dengan bangunan-bangunan yang sudah tidak terawat lagi. Setelah  melewati pintu gerbang, kemudian menyusuri jalan aspal dengan kanan kiri terdapat tanda pengenal jalan dan nama tempat, dan  sampai di sebuah taman yang terdapat sebuah patung, Patung Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan.

Ada pun cerita mengenai patung ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Karena malu menanggung beban diperkosa, akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.

Melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah. Suasana yang sepi di areal pemakaman cukup membuat bergidik juga, untung saya tidak sendirian.

Setelah melewati areal pemakaman, kami sampai di Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu seperti itulah mereka berbulan-bulan mengarungi lautan hingga sampai di pulau Galang ataupun pulau-pulau lainnya di sekitar Kepulauan Riau.

Ada pun perahu-perahu ini adalah perahu-perahu yang diangkat ke daratan dan direnovasi, ada juga perahu-perahu itu yang sengaja ditenggelamkan dan bahkan ada yang dibakar oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi, karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan, atau suaka dari negara negara lain seperti Australia, Perancis, Amerika Serikat dan negara lainnya.

Setelah dari monumen perahu, kami melanjutkan perjalanan melewati bangunan-bangunan bekas tempat tinggal yang masih tersisa di tempat pengungsian ini. Rasa sedih memenuhi ketika melihat peninggalan yang bersejarah ini, kini tidak begitu terawat, banyak semak belukar, bahkan banyak bangunan yang sudah rusak.

Kampung Kecil

Pada masa itu, tempat ini ramai dengan pengungsi, bagaikan sebuah kampung kecil. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kehidupan para pengungsi di kamp ini kita dapat mengunjungi museum yang masih menyimpan berbagai peralatan sehari-hari, foto-foto para pengungsi dan juga foto-foto kegiatan yang mereka lakukan.

Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Tempat-tempat ibadah ini pun tidak jauh berbeda kondisinya dengan bangunan lain yang sudah tidak terawat dan rusak.

Hanya Vihara Quan Am TU yang masih terlihat terawat dan masih digunakan. Vihara Quan Am TU merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di area itu. Cat bangunan yang berwarna-warni membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan.

Ketika akan masuk ke areal Gereja Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, kita membaca sebuah papan nama gereja serta terdapat juga tulisan ‘Galang, Memory of a tragedy past’, suatu pesan yang dalam dari tragedi kemanusiaan akibat perang. Sebuah renungan kepedihan betapa akibat dari perang adalah penderitaan bagi sebagian besar rakyat yang menjadi korban, keluarga-keluarga terpisah, anak-anak yang harus di adopsi oleh keluarga dari negara lain.

Bahkan beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah email dari seorang wanita Vietnam yang tinggal di Amerika, yang menanyakan alamat dan bagaimana cara menuju ke tempat pengungsian di Pulau Galang. Dia ingin berziarah mengunjungi tempat di mana dia pernah tinggal ketika masih kecil, sebelum akhirnya diadopsi oleh keluarga dari Amerika.(mb/detik.com)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Fakta di Balik Pulangnya 51% Saham Freeport ke Pemerintah RI

Metrobatam, Jakarta - Porsi saham pemerintah di PT Freeport Indonesia (PTFI) awalnya masih 9,36% lalu menjadi 51% usai ditandatanganinya Head of Agreement (HoA) antara...

WHO Tetapkan Kecanduan Seks Sebagai Gangguan Kesehatan Mental

Metrobatam, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) baru saja menetapkan perilaku seksual kompulsif alias kecanduan seks sebagai gangguan kesehatan mental. Kecanduan...

Pulau Jawa Terpilih Sebagai Pulau Terbaik Sedunia

Metrobatam, Jakarta - Tiga pulau di Indonesia menduduki peringkat bergengsi dalam daftar 'Top 10 Islands in Asia 2018' versi situs wisata Travel and Leisure,...

Sepakat Lepas 51 persen Saham, Ini Pernyataan Bos Besar Freeport

Metrobatam, Jakarta - Freeport McMoRan telah sepakat untuk melepas 51% saham PT Freeport Indonesia kepada pemerintah Indonesia melalui PT Inalum (Persero). Kesepakatan melalui penandatanganan...

Tekuk Inggris, Belgia Rebut Peringkat Tiga Piala Dunia 2018

Saint-Petersburg - Belgia sukses merebut peringkat tiga di Piala Dunia 2018. Menghadapi Inggris di laga perebutan, The Rode Duivels menang 2-0. Bertanding di Saint-Petersburg Stadium,...

Tank Medium Buatan Pindad Kebal Kena Ledakan TNT

Metrobatam, Bandung - Satu unit medium tank buatan PT Pindad kebal diledakkan. Tank masih utuh meski diledakkan menggunakan bahan ledak TNT. Proses peledakan dilakukan PT...

Buntut Transfer Ronaldo, Buruh Pabrik FIAT Akan Mogok Kerja

Turin - Keputusan Juventus mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid diprotes buruh FIAT. Pekerja pabrik mobil itu akan melakukan mogok kerja. Juventus baru saja mendatangkan...

Mardani Akui “Tunggangi” Aksi 212 untuk Menangkan Anies-Sandi

Metrobatam, Jakarta - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera membeberkan salah satu strategi memenangkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilgub...

RI Caplok 51% Saham Freeport, Ini Cadangan Emas dan Tembaganya

Metrobatam, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan PT Inalum (Persero) sudah sepakat dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk meningkatkan kepemilikan saham hingga 51%....

PAN Tak Mau Berspekulasi Prabowo Batal Nyapres

Metrobatam, Jakarta - PAN tidak mau berspekulasi soal jadi-tidaknya Prabowo Subianto diusung Partai Gerindra sebagai calon presiden (capres). PAN akan tetap menjalin komunikasi dengan...

Penyebar Hoaks Penganiayaan Ustaz Divonis 4 Bulan Penjara

Metrobatam, Jakarta - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung menjatuhkan vonis empat bulan penjara 25 hari kepada Ahyad Saepuloh (28) dalam kasus memuat konten...

Viral, Pemuda di NTB Nikahi Mayat Kekasihnya yang Tewas Akibat Kecelakaan

Metrobatam, Dompu - Warga Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) digegerkan oleh seorang pemuda yang menikahi mayat kekasihnya. Ya, Sukardin hanya bisa pasrah dengan takdir...
BAGIKAN