Lega, Ikan Nila yang Mati Massal di Indonesia Negatif TiLV

1811

Metrobatam, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan telah ada kasus kematian ikan nila massal di Indonesia, dengan gejala klinis seperti penyakit Tilapia Virus Lake (TiLV) yang telah mewabah di beberapa negara lain.

“Yang kita uji lab itu sampel dari kasus kematian massal di Waduk Malahayu Brebes Jawa Timur dan di Kabupaten Kampar, Riau,” tutur Kasubdit Hama dan Penyakit Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Mukti Sri Hastuti kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/7).

Penelitian tim Hastuti menemukan bahwa ikan-ikan nila yang mati secara massal tersebut memiliki kesamaan dengan ciri-ciri penyakit TiLV. “Badannya menghitam. Terus matanya katarak. Kemudian ada luka-luka di badannya,” kata Hastuti melanjutkan.

Ciri-ciri ikan nila yang mati karena TiLV sendiri antara lain, tubuh menghitam, erosi pada kulit, pembengkakan rongga perut, serta adanya selaput katarak pada bagian mata.

Meski punya ciri-ciri yang sama, Hastuti menyatakan ikan nila yang mati secara massal tersebut belum tentu positif mati karena penyakit TiLV. Untuk menentukan apakah ikan tersebut mati karena penyakit TiLV tidak bisa hanya melalui identifikasi kondisi fisik.

Kata Hastuti, itu juga harus melalui uji laboratorium. Menurut pengujian sampel ikan nila yang mati di Brebes dan Kampar, Hastuti bisa memastikan bahwa hasilnya negatif TiLV. “Jadi kalau dibilang mirip, ya mirip. Tetapi begitu kami uji lab ternyata negatif.”

Pengujian di laboratorium sendiri menggunakan metode dari para pakar di Thailand, negara di mana penyakit TiLV terakhir ditemukan setelah Israel, Mesir, Ekuador, dan Kolombia.

Ditemukan Juga di Lombok Barat

Sebelumnya, Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) KKP juga menemukan ikan nila yang mati secara massal di wilayah Lombok Barat. Ikan-ikan nila itu pun mirip seperti yang mati karena penyakit TiLV di Thailand. Namun lagi-lagi ikan itu negatif TiLV.

Itu disampaikan Kepala Bidang Pengkajian dan Manajemen Resiko BKIPM, Sugeng Sudiarto saat diwawancara CNNIndonesia.com di kantornya, Jakarta, Selasa (4/7). Sama seperti Hastuti, Sugeng juga menyatakan ikan nila yang mati itu hanya fisiknya yang mirip ikan dengan TiLV.

BKIPM pun berencana melakukan pengujian sesuai ciri-ciri penyakit TiLV terhadap benih dan ikan nila serta mujair yang siap dikonsumsi, khususnya di daerah seperti Kampar, Brebes, dan Lombok Barat yang sebelumnya sudah ada kasus banyak ikan nila mati mendadak.

“Bahasanya bukan melarang, tetapi memastikan bahwa ikan nila yang keluar dari Lombok tidak mengandung TiLV. Itu jadi target periksanya kawan-kawan karantina,” kata Sugeng. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Bupati Bintan Segera Terapkan 3 Inovasi di Bidang Kesehatan

Metrobatam.com, Bintan - Guna memaksimalkan Pelayanan Kesehatan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Bintan, maka Bupati Bintan H Apri Sujadi, S.Sos mencetuskan 3 inovasi terbaru...

Riset Intelijen Media: Isu PKI Banjiri Medsos, Jokowi dan Panglima TNI Paling Banyak Disebut

Metrobatam, Jakarta - Percakapan tentang isu Partai Komunis Indonesia (PKI) ramai diperbincangkan "netizen" di media sosial, bahkan kembali meningkat tajam sepanjang September 2017 dan...

Waduh! Kekeringan di Karawang Meluas, 33.325 Warga Kesulitan Air Bersih

Metrobatam, Karawang - Kekeringan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat terus meluas hingga di 33 desa. Akibatnya sebanyak 30. 325 jiwa terkena dampak kekeringan. Warga...

Edan! Dikira Taksi Online, Mobil Merah Ini Digulingkan Massa

Metrobatam, Batam - Keberadaan taksi online ternyata masih belum bisa diterima oleh kelompok tertentu. Baru-baru ini sebuah kejadian miris terjadi Kota Batam, Kepulauan Riau...

Usut Korupsi E-KTP, KPK Periksa 7 Saksi dari Perekayasa BJIK hingga Sopir Terdakwa

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil tujuh orang saksi dalam kasus megakorupsi pengadaan e-KTP. Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Setya...

Isi e-Money Kena Biaya, OJK: Bank kan Cari Untung Tapi Harus Terukur

Metrobatam, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, pembatasan fee isi ulang e-money agar para perbankan tidak mengambil untung secara sembarangan melainkan harus terukur. Hal...

Ini Isi Surat Penetapan Ridwan Kamil Jadi Cagub Jabar oleh Golkar

Metrobatam, Jakarta - Partai Golkar mengesahkan dan menetapkan Ridwan Kamil berpasangan dengan Daniel Muttaqien maju ke Pilgub Jabar 2018. Keputusan tersebut sudah direstui oleh...

Enam Bulan Jelang Pensiun, Panglima TNI Gatot Nurmantyo Minta Saran Senior

Metrobatam, Jakarta - Enam bulan jelang pensiun, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta saran kepada para senior dan sesepuh di institusinya. Ia meyakini bahwa...

Novanto Tetapkan Emil Jadi Cagub Jabar, NasDem Menyambut Baik

Metrobatam, Jakarta - Ketum Golkar Setya Novanto membuat langkah mengejutkan dengan menunjuk Ridwan Kamil sebagai cagub Jawa Barat (Jabar) 2018. NasDem menyambut baik, meski...

Polisi Sita 2 Ribu Pil PCC di Medan, 2 Pengedar Ditangkap

Metrobatam, Medan - Polisi menyita 2 ribu lebih pil PCC di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Dari pengungkapan itu, polisi menangkap dua pengedar pil. "Kedua tersangka...

Polisi Akan Panggil Sejumlah Nama yang Terlibat Kasus Saracen

Metrobatam, Jakarta - Kepolisian bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terus melakukan penelusuran soal aliran dana ke Sindikat Saracen. Dari hasil penyidikan...

Pria India Ini Pemilik 145 Gelar Pendidikan dalam 30 Tahun

Metrobatam, Jakarta - Dibandingkan dengan VN Parthiban, mendapatkan satu gelar pendidikan S1 selama 4 tahun bukanlah hal yang sulit. Parthiban adalah seorang profesor yang mengajar...
BAGIKAN