Lega, Ikan Nila yang Mati Massal di Indonesia Negatif TiLV

1780

Metrobatam, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan telah ada kasus kematian ikan nila massal di Indonesia, dengan gejala klinis seperti penyakit Tilapia Virus Lake (TiLV) yang telah mewabah di beberapa negara lain.

“Yang kita uji lab itu sampel dari kasus kematian massal di Waduk Malahayu Brebes Jawa Timur dan di Kabupaten Kampar, Riau,” tutur Kasubdit Hama dan Penyakit Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Mukti Sri Hastuti kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/7).

Penelitian tim Hastuti menemukan bahwa ikan-ikan nila yang mati secara massal tersebut memiliki kesamaan dengan ciri-ciri penyakit TiLV. “Badannya menghitam. Terus matanya katarak. Kemudian ada luka-luka di badannya,” kata Hastuti melanjutkan.

Ciri-ciri ikan nila yang mati karena TiLV sendiri antara lain, tubuh menghitam, erosi pada kulit, pembengkakan rongga perut, serta adanya selaput katarak pada bagian mata.

Meski punya ciri-ciri yang sama, Hastuti menyatakan ikan nila yang mati secara massal tersebut belum tentu positif mati karena penyakit TiLV. Untuk menentukan apakah ikan tersebut mati karena penyakit TiLV tidak bisa hanya melalui identifikasi kondisi fisik.

Kata Hastuti, itu juga harus melalui uji laboratorium. Menurut pengujian sampel ikan nila yang mati di Brebes dan Kampar, Hastuti bisa memastikan bahwa hasilnya negatif TiLV. “Jadi kalau dibilang mirip, ya mirip. Tetapi begitu kami uji lab ternyata negatif.”

Pengujian di laboratorium sendiri menggunakan metode dari para pakar di Thailand, negara di mana penyakit TiLV terakhir ditemukan setelah Israel, Mesir, Ekuador, dan Kolombia.

Ditemukan Juga di Lombok Barat

Sebelumnya, Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) KKP juga menemukan ikan nila yang mati secara massal di wilayah Lombok Barat. Ikan-ikan nila itu pun mirip seperti yang mati karena penyakit TiLV di Thailand. Namun lagi-lagi ikan itu negatif TiLV.

Itu disampaikan Kepala Bidang Pengkajian dan Manajemen Resiko BKIPM, Sugeng Sudiarto saat diwawancara CNNIndonesia.com di kantornya, Jakarta, Selasa (4/7). Sama seperti Hastuti, Sugeng juga menyatakan ikan nila yang mati itu hanya fisiknya yang mirip ikan dengan TiLV.

BKIPM pun berencana melakukan pengujian sesuai ciri-ciri penyakit TiLV terhadap benih dan ikan nila serta mujair yang siap dikonsumsi, khususnya di daerah seperti Kampar, Brebes, dan Lombok Barat yang sebelumnya sudah ada kasus banyak ikan nila mati mendadak.

“Bahasanya bukan melarang, tetapi memastikan bahwa ikan nila yang keluar dari Lombok tidak mengandung TiLV. Itu jadi target periksanya kawan-kawan karantina,” kata Sugeng. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Ini Gagasan dari Urban Nexus ke 7 untuk Pemko Tanjungpinang

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Berakhir sudah kegiatan Regional Workshop Ke 7 Urban nexus yang dilaksanakan di Hotel CK Tanjungpinang selama 3 hari. Oleh Deutsche Gesellschaft...

Tim Patroli Laut KPU BC Tipe B Batam Tangkap Kapal Penyeludup Ribuaan Burung Kacer...

Metrobatam.com, Batam - Tim Patroli Laut KPU BC Tipe B Batam gagalkan penyeludupan ribuaan Burung Kacer dari Malaysia di Pelabuhan Tikus, Tiban Mentarau, Sekupang...

Wako Tanjungpinang Lis Darmansyah Tunggu Keputusan Menpan RB Terkait Kurangnya Tenaga Pengajar

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah menyebutkan bahwa Kota Tanjungpinang saat ini masih kekurangan 465 guru SD maupun SMP. "Setelah kita evaluasi secara total,...

‘Presidential Threshold’ Untungkan Parpol Rugikan Capres 2019

Metrobatam, Jakarta - Undang-undang yang bakal mengatur Penyelenggaraan Pemilu akhirnya disahkan, Jumat (21/7) dini hari WIB. Namun, pengesahan UU Pemilu itu tak terjadi dengan lancar....

Ada Lagi Ormas Terindikasi Anti-Pancasila, Siapa Dia?

Metrobatam, Jakarta - Pasca-pembubaran HTI, Polri menemukan ada indikasi ormas-ormas anti-Pancasila. Ormas itu sedang diawasi. Siapa mereka? Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul...

Diduga Perkosa Anak di Bawah Umur, Bek Sriwijaya FC Ditahan

Metrobatam, Jakarta - Bek Sriwijaya FC, Marco Sandy Meraudje, ditahan Kepolisian Resor Kota Palembang setelah diduga menganiaya dan memperkosa anak di bawah umur, Kamis...

Sita 1.161 Ton Beras, Kapolri: Negara Rugi Ratusan Triliun Rupiah

Metrobatam, Bekasi - Sebanyak 1.161 ton beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di Kabupaten Bekasi disita Satgas Pangan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian...

Penundaan Gaji PNS ke-13 jadi Biang Kerok Pelemahan Daya Beli

Metrobatam, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan daya beli masyarakat selama Juni 2017. Inilah yang menjadi salah satu bahan pertimbangan BI dalam memutuskan...

Gunung Sinabung Terus Bergejolak, Pemerintah Daerah Tunggu Arahan BNPB

Metrobatam, Medan - Sudah hampir 1 bulan terakhir Gunung Api Sinabung kembali bergejolak. Bahkan Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Sinabung setiap...

Trump Mengklaim ISIS Jatuh Sangat Cepat

Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mulai runtuh. Klaim ini disampaikan...

BNN Bersama GANN Kota Batam Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional

Metrobatam.com, Batam - GANN adalah singkatan dari Generasi Anti Narkotika Nasional, yaitu sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat berbasis massa yang lahir dan berangkat dari keprihatinan...

41 Rumah Terbakar di Medan, BPBD Dirikan Posko Pengungsian di Masjid

Metrobatam, Medan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan mendirikan posko untuk ratusan korban kebakaran yang terjadi pada Kamis (20/7/2017) malam hingga Jumat...