Sedekah Laut, Tradisi Luhur yang Disalahpahami

oleh

Metrobatam, Jakarta – Sedekah laut dianggap tradisi yang melanggar agama. Padahal, banyak yang tidak paham dengan maksud sesungguhnya dari acara sedekah laut.

“Masyarakat pesisir terutama di Jawa, pasti punya upacara laut,” kata pakar Antropologi UI Jajang Gunawijaya kepada detikTravel di FISIP UI, Depok, Kamis (18/10).

Tradisi upacara laut oleh para nelayan ini menurut Jajang sudah ada di Nusantara sejak zaman pra-Islam. Awalnya, ada penghormatan terhadap dewa-dewa yang dianggap menguasai lautan. Sementara para petani punya upacara sejenis terhadap dewa kesuburan dalam hal ini yang sering disebut namanya adalah Dewi Sri.

“Tujuan upacara laut ini (berdoa) untuk mendapat perlindungan, keselamatan di lautan dan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut,” kata Jajang.

Saat Islam masuk ke Nusantara, juga dari daerah pesisir. Masuknya Islam sudah mengubah tradisi upacara laut ini. Tradisi berdoa dan bersyukurnya dijaga, namun sudah disesuaikan dengan ajaran Islam.

“Yang tadinya berdoa kepada dewa, menjadi berdoa kepada Allah. Jampi-jampi diganti dengan bahasa Al Quran. Namun tradisi larung masih ada sampai sekarang,” ujar pria yang menjabat sebagai Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan Sosial Politik (LP2SP) FISIP/ Kabid Soshum Vokasi UI ini.

Tradisi melarung ini yang belakangan masih diprotes sekelompok orang. Menurut Jajang, tradisi ini bukan terkait urusan ibadah jadi semestinya tidak dipermasalahkan.

“Itu tradisi ya, bukan ibadah. Setiap suku bangsa punya tradisi, itu jatidiri bangsa. Seperti, upacara 17 Agustus itu juga tradisi,” kata dia.

Menurut Jajang, jangan sampai karena penolakan ini orang lupa dengan fungsi dari tradisi sedekah laut, terlepas dari apapun konsep acaranya. “Fungsinya tidak berubah sebagai ajang bersyukur kepada Tuhan,” pungkasnya. (mb/detik)