Tak Sesuai Hati Nurani, Perawat Sebut Benjol di Kepala Novanto Hanya Sebesar Kuku

1964

Metrobatam, Jakarta – Benjol di kepala Setya Novanto ketika disebut mengalami kecelakaan pada 16 November 2017 sempat disinggung Fredrich Yunadi sebesar bakpao. Namun, menurut perawat RS Medika Permata Hijau, Indri Astuti, yang merawat Novanto, benjolan itu hanya sebesar kuku.

Awalnya, Indri mengatakan Novanto tiba di rumah sakit dibawa dengan brankar yang didorong seorang sopir dan petugas keamanan rumah sakit. Saat itu, menurutnya, wajah Novanto ditutupi selimut.

“Biasanya kami menerima pasien diantar perawat. Tapi ini tidak ada perawat yang mengantar. Saya pikir inilah pasiennya, langsung saya arahkan ke kamar 323. Yang saya ingat pasien (ditutupi) rapat, ditutupin cuma mukanya sedikit (kelihatan),” ujar Indri ketika bersaksi dalam sidang lanjutan perkara perintangan penyidikan Setya Novanto dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Menurut Indri, tidak ada ucapan apapun dari Novanto. Ketika tiba di ruangan, Novanto dipindah ke tempat tidur kemudian dipasangi selang oksigen.

Setelah itu, ada dr Bimanesh Sutarjo yang mengecek kondisi Novanto. Indri mengaku sempat melihat ada luka lecet di dahi sebelah kiri dan tangan kiri Novanto.

Indri mengaku diperintah Bimanesh untuk menempelkan infus ke tangan Novanto. Namun Indri tidak langsung memenuhi perintah Bimanesh yang sejurus kemudian keluar ruangan.

Perawat senior rumah sakit itu kemudian memilih memeriksa detak jantung Novanto. Setelah itu, Indri ingin memeriksa tensi Novanto, namun Bimanesh yang masuk ruangan lagi, mengambil alih pekerjaan Indri.

“Dokter Bimanesh mengambil alih pekerjaan saya. Sambil berkata kepada pasien, tensinya 180 per 110 tapi pasien tetap diam saja,” ucap Indri.

Setelah itu, Indri baru melihat benjolan di dahi Novanto. Padahal, menurutnya, benjolan itu tadinya tidak ada.

“Dilihat di dahi itu ada benjolan, dua benjolan. Itu setelah yang kedua saya lihat. Benjolannya hanya sebesar kuku saya,” ucapnya.

“Dokter Bima juga bilang, ‘loh tadi nggak ada, sekarang kok ada’,” imbuh Indri.

Dalam perkara ini, Bimanesh didakwa merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Bimanesh diduga bekerja sama dengan Fredrich Yunadi merekayasa sakitnya Novanto.

Tangis Perawat RS Medika

Supervisor keperawatan Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, Indri Astuti tak bisa menahan tangis saat menceritakan pemasangan perban di wajah mantan Ketua DPR Setya Novanto saat dirawat pada 16 November 2017.

Indri dihadirkan sebagai saksi untuk dokter Bimanesh Sutarjo, salah satu terdakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP. Dia mengaku tak kerasan saat merawat Setnov.

Menurut Indri, luka-luka yang ada di wajah Setnov ketika itu tak perlu diperban. Namun, karena ada perintah dari Setnov dan Bimanesh, Indri terpaksa memasangkan perban pada luka yang ada di bagian wajah mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

“Jadi tindakan saya (memasangkan perban ke Setnov), karena saya melakukan tindakan tidak sesuai hati nurani saya,” tutur Indri saat ditanya mengapa tiba-tiba menangis, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/4).

“Itu luka enggak perlu perban, tapi akhirnya karena permintaan itu harus dipasang (perban),” kata Indri menambahkan.

Indri mengaku mengoleskan salep terlebih dahulu pada luka yang hanya lecet-lecet di bagian dahi sebelah kiri Setnov, sebelum memasangkan perban. “Saya coba tutup muka pakai perban,” ujarnya.

Menurut Indri, awalnya Setnov yang meminta agar luka-lukanya diperban. Dia pun kaget seorang pasien meminta untuk langsung diperban.

Indri mengaku tak serta-merta menuruti permintaan Setnov dan bertanya terlebih dahulu ke dokter Bimanesh. Setelah itu, kata Indri, dokter Bimanesh memerintahkan dirinya memasangkan perban agar Setnov merasa nyaman.

“Ya sudah diperban saja, demi kenyamanan pasien,” kata Indri menirukan perkataan Bimanesh.

Tak sampai di situ, Indri kembali dibuat heran dengan tingkah laku Setnov saat dirawat ketika itu. Menurut Indri, tiba-tiba saat itu Setnov meminta obat merah.

Indri mengaku sempat emosi saat Setnov meminta obat merah. Indri pun menjawab permintaan Setnov itu dengan agak ketus. “Pasien, minta obat merah. Obat merah enggak ada di rumah sakit. Saya jadi emosi, Pak. Saya lihat lukanya enggak berdarah-darah,” ujarnya.

Bimanesh didakwa bersama Fredrich merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov. Dia dan Fredrich ditenggarai telah mengondisikan RS Medika Permata Hijau sebelum Setnov mengalami kecelakaan mobil.

Selain itu, Bimanesh dan Fredrich diduga memanipulasi data medis Setnov agar bisa dirawat untuk menghindari pemeriksaan KPK pada pertengahan November 2017 lalu. Kala itu, Setnov bakal diperiksa sebagai tersangka korupsi proyek yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Wali Kota Tegal Divonis 5 Tahun Penjara

Metrobatam, Jakarta - Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang menjatuhkan vonis lima tahun penjara, kepada Wali Kota nonaktif Tegal, Siti Masitha. Dia...

Dikawal 4 Pesawat Tempur, Panglima TNI ke Natuna Tinjau Pangkalan Militer

Metrobatam, Jakarta – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berkunjung ke Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. Saat terbang ke sana, Hadi mendapat pengawalan ekstra ketat. Empat...

PKS Luruskan Hoax Kader Komentar ‘Kartini Pemuas Seks Belanda’

Metrobatam, Jakarta - Komentar seseorang bernama Ahmada Al Fatih yang menghina Kartini dikait-kaitkan dengan PKS. Foto seseorang berjas PKS digabungkan dengan komentar itu. Bagaimana...

Menkumham Setuju Hukuman Cambuk Dilakukan di Area Lapas

Metrobatam, Jakarta – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly setuju eksekusi hukuman cambuk bagi pelanggar syariat di Aceh dila‎ksanakan di...

Dokter RS Premier Ngaku Tak Pernah Beri Rekam Medis Setnov ke Fredrich Yunadi

Metrobatam, Jakarta - Dokter RS Premier Glen S Dunda mengaku, tidak pernah memberi rekam medis terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto (Setnov) kepada pengacara...

Bos First Travel Akui Gaji Rp 1 M dan Beli Restoran di London

Metrobatam, Depok - Hakim menanyai bos First Travel, Andika Surachman soal nilai gajinya yang mencapai Rp 1 miliar tiap bulan. Menurut Andika, gaji sebesar...

Jenazah Wakapolres Labuhanbatu Dimakamkan secara Militer di Kampung Halamannya

Metrobatam, Medan – Wakapolres Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kompol Andi Chandra, yang tewas setelah kapal yang ditumpanginya bersama 6 pejabat utama Polres Labuhanbatu tenggelam di...

Ketua DPRD Kepri Minta KPID Tangkal Penyebaran Hoax Melalui Siaran

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Ketua DPRD Provinsi provinsi Kepri Jumaga Nadeak, meminta agar Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) setempat berperan aktif menangkal penyebaran hoax melalui...

Ditpolairud Polda Kepri MoU dengan DPC INSA Batam Serta Luncurkan Aplikasi Sipopeye Kepri

Metrobatam.com, Batam - Dirpolairud Polda Kepri meluncurkan aplikasi SIPOPEYE KEPRI dan lakukan Penandatanganan (Memorandum of Understanding) MoU bersama DPC INSA Batam, Jumat (20/4/2018) pagi di...

Tiga Penari Erotis di Batam Hanya Pekerja Lepas

Metrobatam, Batam - Tiga penari erotis di Dataran Engku Putri, Batam Center, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) pada Sabtu, 14 April 2018 lalu diketahui hanya...

‘Sentilan’ SBY dan Polemik Kasus Century

Metrobatam, Jakarta - Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, membuat pernyataan mengejutkan melalui akun media sosial Twitter pribadinya, @SBYudhoyono, pada Selasa (17/4). SBY menyampaikan...

Asyik Pesta Narkoba, 5 Pelajar Ditangkap di Rumah Kosong

Metrobatam, Pekanbaru - Bukannya mengisi waktu dengan hal positif, sekelompok remaja ini malah melakukan perbuatan tercela dan melanggar hukum. Para remaja yang semua masih...
BAGIKAN