Tank Harimau Buatan Pindad Mejeng di Indo Defence Expo

oleh

Metrobatam, Jakarta – Kendaraan tempur lapis baja alias tank buatan PT Pindad, Harimau, dipajang dalam pameran alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indo Defence Expo & Forum, JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tank buatan pabrikan militer Indonesia itu merupakan hasil kolaborasi dengan pabrikan militer Turki, FNSS.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengatakan keberadaan tank dengan tipe medium tersebut bisa membuat TNI tak perlu lagi membeli tank Leopard produksi Jerman untuk memenuhi sistem alutsista.

“Ya (enggak akan dibeli lagi), kalau Tank yang berat percuma, mending itu [Tank Leopard] dikeluarkan saat Ultah TNI saja,” kata Ryamizard di JIExpo, Rabu (7/11).

Lebih lanjut, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu pun menilai tank medium seperti Harimau tersebut lebih cocok untuk beroperasi di kondisi geografis Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki kontur tanah yang bervariasi.

“Kita memang cocoknya medium tank. Kalau Leopard berat itu enggak cocok. Kita mau kemana? Jalanan bisa ambrol kalau pakai Leopard, karena beratnya bisa 60 ton. Apalagi kalau sudah keluar Jawa, Sumatera dan Kalimantan yang [daerahnya] rawa-rawa. Enggak pas,” kata purnawirawan jenderal TNI AD bintang empat tersebut.

Di tempat yang sama, Direktur PT Pindad, Abraham Mose mengatakan kolaborasi pihaknya dan FNSS untuk mengembangkan Harimau dilakukan sejak 2015 silam.

“Saat ini proses sudah selesai, pengembangan, nilai investasinya Rp150 miliar dari Turki dan Rp150 miliar dari indonesia. Jadi Rp300 miliar,” kata Mose saat ditemui di sela-sela gelaran Indo Defence 2018, Jakarta, Rabu (7/11).

Tank tersebut memiliki bobot sekitar 30 ton, atas dasar itu Mose pun setuju bahwa Harimau lebih cocok untuk kondisi di Indonesia. Selain kondisi tanah yang relatif gembur, mose menyatakan jalanan di Indonesia termasuk jembatan relatif memiliki kemampuan menopang berat tak lebih dari 40 ton.

“Kita sudah punya [tank] Leopard yang beratnya hampir 60 ton, dan tak begitu cocok dengan kondisi di Indonesia yang banyak tanah gembur dan banyak jembatan. Sehingga bagaimana kita punya ide untuk membangun tank yang lebih kecil, tapi kualitasnya lebih baik,” kata Mose.

Tank Harimau memiliki kecepatan maksimal 70 km per jam yang dilengkapi mesin 711 tenaga kuda (horse power/hp) dan dilengkapi transmisi otomatis.

Dari sisi perlindungan balistik, tank ini dinyatakan pada tingkat STNAG 4569 level 4 dan perlindungan anti ranjau pada tingkat STNAG 4569 4a dan 3b.

Tak berhenti disitu, Tank ini turut dilengkapi senjata utama turret kaliber 105 mm dengan sistem pengisian peluru otomatis. “Biasanya tank jenis ini isi pelurunya manual, tapi ini otomatis, jadi buat nyaman pengendara” kata Mose.

Seperti namanya, ‘Harimau’, Mose mengatakan tank ini memiliki kelincahan manuver dan ketahanan yang lebih baik dari tank jenis Leopard.

Ia pun mengatakan ‘Harimau’ sudah lolos berbagai uji coba yang dilakukan pihak Kementerian Pertahanan dan Pemerintah Turki sejak tahun lalu.

Tank ini pun diklaimnya telah mendapat sertifikat layak dari TNI Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan RI.

“Uji ketahanan lintas itu sudah 2.500 km, uji ledak dengan 80 kilogram TNI diledakan dan ternyata masih utuh tak kenapa-kenapa, kemudian uji tembak dengan target statis dan dinamis dan semuanya berhasil baik,” ungkap Mose.

Mose mengatakan pihaknya telah mempersiapkan produksi massal sebanyak 25 unit Tank ‘Harimau’ tahun depan untuk kebutuhan TNI. “Tapi kalau 2020 nanti, kita sudah 50 unit pertahun, bisa naik terus,” kata Mose.

Di tingkat dunia, Mose menyatakan tank ini telah mengundang minat negara tetangga seperti Malaysia dan Fipilina yang berencana membelinya. Mose mengatakan Tank Harimau sedang mengikuti proses lelang pengadaan di kedua negara tersebut. “Jadi kebanggan mereka minat untuk medium tank yang baru selesai ini,” kata dia.

Kemandirian Alutsista

Di satu sisi, Ryamizard menyatakan kegiatan Indo Defence Expo and Forum bisa terus menopang upaya mewujudkan kemandirian industri alutsista Indonesia.

Ryamizard mengatakan pemerintah sedang berusaha untuk melepaskan ketergantungan pengadaan alutsista dan teknologinya dari produsen asing.

Salah satunya, ia berambisi agar Indonesia terlebih dulu menguasai dan memproduksi sendiri berbagai teknologi mutakhir alutsista yang dimiliki negara asing. “Semua teknologi baru kita akan ikuti. Kalau kita tidak mengikuti kita tertinggal zaman,” kata dia.

Ryamizard sendiri pun mengakui pentingnya teknologi mutakhir dalam penguatan sistem alutsista pertahanan dalam negeri.

Sebagai contoh, ia menggambarkan beberapa alutsista milik TNI saat ini perlu diperbarui. Ia pun merasa sangat memerlukan teknologi dan alutsista terbaik untuk menjaga keamanan dalam negeri.

“Bukan untuk perang, untuk menjaga kedamaian. Indonesia cinta damai. Itu harus dijaga,” kata dia.

Selain itu, Ryamizard mengatakan Indonesia menjadi produsen yang potensial sekaligus sebagai pasar paling menarik bagi industri pertahanan di Asia Tenggara.

Indo Defence 2018 digelar di JIExpo 7 hingga 10 November 2018. Ajang yang sudah memasuki tahun kedelapan ini diikuti 867 peserta dari 60 negara, dimana 30 negara hadir sebagai negara paviliun termasuk Indonesia. (mb/cnn indonesia)