Terungkapnya Tipu-tipu Novanto: Infus Anak sampai Kencing Berdiri

1311

Metrobatam, Jakarta – Drama kecelakaan Setya Novanto tak habis-habis dibongkar jaksa KPK. Kali ini, praktik tipu-tipu Novanto dikupas tuntas oleh perawat RS Medika Permata Hijau.

Adalah Indri Astuti yang dihadirkan jaksa KPK dalam sidang lanjutan perkara dugaan perintangan penyidikan Novanto dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo. Menurut Indri, banyak kejanggalan yang terjadi ketika Novanto tiba di rumah sakit itu pada 16 November 2017.

Di tanggal itu, KPK tengah mencari Novanto ketika tiba-tiba ada kabar kecelakaan yang dialami Novanto. Mobil Fortuner yang ditumpangi Novanto saat itu disebut menabrak tiang dan menyebabkan Novanto harus dirawat di rumah sakit.

Indri yang saat itu sebenarnya sudah berniat pulang diminta untuk kembali bekerja. Meski sempat khawatir lantaran pasien yang akan ditanganinya adalah Novanto, Indri tetap bekerja dengan jaminan dari Bimanesh.

“Dokter Bima nanya ke saya, ‘lu takut ya?’, saya bilang iya. Dia bilang ‘sudah tenang saja, kalau ada apa-apa Kombes Pol Bimanesh yang bertanggung jawab’,” kata Indri saat bersaksi dalam sidang perkara perintangan penyidikan dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Kemudian Indri menyebut Novanto datang ke RS diantar seorang sopir dan petugas keamanan rumah sakit. Dia mengaku tidak melihat wajah Novanto yang terbaring di brankar lantaran wajahnya ditutupi, tak jelas apa maksudnya.

Menurut Indri, Novanto saat itu langsung dibawa ke ruang inap VIP di lantai 3. Dia sempat melihat luka lecet di dahi kiri serta tangan kiri Novanto.

Sejurus kemudian, Bimanesh meminta Indri untuk menempelkan infus ke tangan Novanto. Namun, Indri tidak langsung melakukannya karena Bimanesh keluar ruangan.

Lalu Indri mengecek detak jantung Novanto serta memeriksa tensi. Saat akan memeriksa tensi, Bimanesh kembali masuk ke ruangan dan mengambil alih pekerjaan Indri.

“Diambil alih oleh dr Bimanesh, dan dr Bimanesh berkata ke pasien, tensinya 180 per 110 tapi pasien tetap diam saja,” ucap Indri.

Saat itulah, Indri baru menyadari adanya benjolan di dahi Novanto yang menurutnya hanya sebesar kukunya. Padahal, menurutnya, benjolan itu sebelumnya tidak ada.

Indri pun sempat kaget ketika akan meninggalkan ruangan karena Novanto berteriak padanya agar memasangkan perban di kepalanya. Indri juga terkejut ketika Novanto meminta obat merah padanya padahal tidak ada darah yang keluar dari luka Novanto.

Selain itu, Indri juga mengungkapkan tentang infus anak-anak yang dipasangkan ke Novanto. Indri mengaku memasangkan infus anak-anak itu karena tidak menemukan pembuluh darah Novanto.

“Saya mau pasang infus di tangan kanan. Karena pembuluh darah tidak kelihatan, saya mau pasang di pergelangan tangan, sebelumnya saya pasang alat, namun tidak kelihatan (pembuluh darah) saya coba pukul dengan tiga jari. Saat pukulan kedua saya terkejut karena tangannya itu (mengangkat), kayaknya marah,” kata Indri.

Indri mengaku telah meminta izin pada Novanto untuk memasang infus, tetapi gerakan-gerakan Novanto membuatnya bingung. Dia kemudian mengambil keputusan untuk memasang jarum infus anak kepada Novanto. Jarum infus untuk anak itu menurutnya memang tersedia di dalam kamar.

“Dengan keputusan saya sendiri karena pembuluh darah tidak kelihatan, tapi saat saya sentuh sekali dapat, saya menggunakan yang kuning itu jarum untuk anak-anak,” ucap Indri.

“Alasan Anda apa pakai itu?” tanya hakim.

“Pertama saya dikejutkan dengan tangan dia. Saya pikir bapak ini marah. Saya makin nggak berani. Saya membuat tindakan sekali tusuk saya dapat, karena (pembuluhnya) tidak kelihatan, saya pakai perabaan, saya raba ada saya tusuk dapat,” ujar Indri.

Kejanggalan lainnya disebut Indri terjadi ketika keesokan harinya ingin mengecek kondisi Novanto. Saat itu pagi pukul 06.00 WIB, Indri berniat mengecek tensi Novanto.

Namun saat masuk ke kamar, Indri mendapati Novanto masih tidur sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi 5 menit kemudian. Saat akan kembali ke kamar itu, Indri membuka pintu perlahan karena takut Novanto masih tidur. Namun dia malah mendapati Novanto sedang berdiri dan kencing di samping tempat tidur.

“Saya kembali lagi ke situ, saya lihat bapak itu sudah berdiri tegak sedang buang air kecil. Dia berdiri tegak, kencing di urinal,” ucap Indri.

“Nggak di toilet?” tanya hakim.

“Nggak. Dia di sisi kiri tempat tidur,” jawab Indri.

“Begitu saya masuk, mungkin si bapak ini nggak mendengar karena saya buka pintu memang pelan-pelan karena saya pikir masih tidur dan tidak mau membangunkan. Saya lihat saya langsung bilang, ‘Pak, saya bantuin.’ Si bapak itu kaget, kayak naik badannya gitu. Setelah itu, dia merebahkan badannya dengan susah payah, padahal sudah bisa berdiri,” imbuh Indri.

Indri kemudian memeriksa tensi Novanto. Setelah selesai memeriksa, Indri keluar dari ruangan dan menunggu pergantian jam perawat. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Ancaman Hukuman Mati Menanti Penyelundup 1,6 Ton Sabu

Metrobatam, Jakarta - Gerombolan penyelundup 1,6 ton sabu di Batam, Kepulauan Riau, terancam hukuman maksimal. Jaksa Agung M Prasetyo memastikan langsung agar mereka mendapatkan...

Dirut Pertamina Elia Dicopot karena Minyak Tumpah dan Kelangkaan Premium

Metrobatam, Jakarta - Elia Massa Manik dicopot dari Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)...

Menaker: Aturan Baru Tenaga Kerja Asing Jangan Buat Adu Domba

Metrobatam, Jakarta - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri meminta semua pihak tidak mengadu domba pemerintah dengan masyarakat soal aturan baru tenaga kerja asing. Ia...

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan pada 17 Mei

Metrobatam, Jakarta - Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan tahun ini jatuh pada 17 Mei mendatang. Sedangkan 1 Syawal 1439 Hijriah atau Hari Raya...

Pimpinan KPK: TPPU untuk Novanto Harus Jalan

Metrobatam, Jakarta - KPK bicara soal penerapan jeratan tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk Setya Novanto. Namun, kepastian soal itu masih memerlukan kajian mendalam...

Kemlu Sebut Ada 2 Ribu WNI yang Berada di Suriah

Metrobatam, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sebut masih ada sekitar 2 ribu warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Suriah. Mayoritas WNI di...

Ini Kata Mendag soal Dampak Positif dan Negatif Libur Lebaran Ditambah

Metrobatam, Jakarta - Cuti bersama Lebaran ditambah 3 hari. Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menjelaskan tambahan libur itu ada dampak positif...

Kapolri: Polisi Jadi Bandar Narkoba Tembak Mati!

Metrobatam, Pekanbaru - Anggota Polri yang tersandung masalah hukum diperintahkan untuk tetap diusut tuntas. Bagi yang terlibat narkoba hingga menjadi bandar narkoba diminta untuk...

Polisi Minta Anak Buah Big Bos Miras Maut Serahkan Diri

Metrobatam, Bandung - Polisi meminta empat anak buah Samsudin Simbolon, bos miras oplosan maut, yang masih buron menyerahkan diri. "Kita minta supaya menyerahkan diri. Karena...

Helikopter Jatuh di Morowali, 1 Orang Tewas

Metrobatam, Jakarta - Sebuah helikopter jatuh di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah. Satu orang tewas dalam insiden itu, tetapi...

Mensesneg: Perpres Tak Mudahkan TKA Masuk ke RI

Metrobatam, Jakarta - Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) menuai polemik lantaran dianggap membuka peluang tenaga kerja asing...

Ini 5 Tanda Anda Susah Jadi Orang Kaya

Metrobatam, Jakarta - Anda tentu tahu kunci untuk hidup sukses atau menjadi kaya salah satunya adalah dengan menabung. Tetapi, jika anda memiliki 5 tanda...
BAGIKAN