Vonis ‘Hantu’ JAD dan Perubahan Seribu Nama Kelompok Radikal

Metrobatam, Jakarta – Kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) menjadi pihak terdakwa dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa penuntut umum mendakwa JAD sebagai kelompok atau wadah teroris yang kerap melakukan aksi teror di Indonesia. Kini, nasib JAD dan anggotanya berada di tangan majelis hakim.

Hari ini PN Jakarta Selatan menggelar sidang dengan agenda pembacaan tuntutan terhadap JAD.

Anggota JAD dianggap kerap mendalangi aksi teror, di antaranya teror bom Thamrin (Jakarta Pusat), Kampung Melayu (Jakarta Timur), dan Gereja Ouikumen Samarinda (Kalimantan Timur). Terakhir, anggota JAD melakukan aksi teror beruntun di sejumlah gereja di Surabaya.

Dalam sidang tersebut, jaksa mendakwa JAD dengan Pasal 17 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 sebagaimana telah direvisi menjadi Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Sementara vonis berupa pelarangan sebuah organisasi atau korporasi tercantum dalam Pasal 18 ayat (3).

“Kalau sudah dilarang siapapun yang nanti masih tetap ikut (JAD) bisa dipidana UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,” kata Jaksa Penuntut Umum Heri Jerman saat ditemui usai sidang, Selasa (24/7).

Sebuah kelompok yang menjadi terdakwa atas kasus teror sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, Jamaah Islamiyah (JI) juga mengalami hal serupa. Bahkan, kelompok yang dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir tersebut juga sudah mendapat vonis.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 22 April 2008, Majelis Hakim PN Jakarta Selatan memvonis JI sebagai korporasi terlarang kemudian dihukum membayar denda Rp10 juta. JI juga dinyatakan bersalah lantaran melakukan tindak pidana terorisme. Beberapa anggota JI yang pernah melancarkan aksi teror antara lain Noordin M. Top, Dulmatin, Azahari, serta Hambali.

Pembubaran Lewat Pengadilan

Kementerian Dalam Negeri angkat suara mengenai sidang yang kini dijalani JAD. Direktur Ormas pada Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Lutfi menjelaskan setiap ormas dapat mendaftarkan diri ke Kemendagri agar diakui.

Namun, Kemendagri tidak dapat memberi stempel suatu organisasi sebagai kelompok terlarang, baik terhadap organisasi yang terdaftar maupun yang tidak. Begitu pula JAD yang tidak terdaftar sebagai ormas di Kemendagri.

“Kemendagri tidak mempunyai kewenangan untuk menetapkan JAD sebagai organisasi terlarang,” tutur Lutfi saat dihubungi, Rabu (25/7).

Selain itu, Kemendagri juga tak dapat membubarkan JAD yang tidak terdaftar secara organisasi. Pembubaran suatu organisasi yang tidak terdaftar hanya dapat dilakukan oleh pengadilan.

Lutfi mengatakan meski kini telah ada UU Terorisme yang baru, namun, tetap saja Kemendagri hanya bisa membubarkan ormas yang terdaftar.

“Jika tidak terdaftar, maka hanya pengadilan yang berwenang,” tutur Lutfi.

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai tidak akan banyak perubahan terhadap pergerakan jaringan terorisme meskipun JAD divonis sebagai kelompok terlarang.

Harits mengatakan aksi teror dijalankan oleh orang per orang, meskipun dikoordinasikan dalam sebuah kelompok. Akan tetapi, jika kelompok itu dicap terlarang, bukan berarti para pemilik paham radikal berhenti begitu saja.

“Selama individu-individunya ada maka nama bisa dibuat oleh mereka atau pihak di luar mereka dengan seribu nama,” ucap Harits.

Terlebih, Harits sendiri belum yakin bahwa JAD itu memang benar-benar ada secara organisasi. Karenanya putusan hakim terhadap JAD nantinya seperti vonis ‘hantu’, maksudnya putusan itu dijatuhkan terhadap satu kelompok yang keberadaannya secara organisasi masih bisa diperdebatkan.

“Menurut saya, keputusan tersebut seperti keputusan hantu. Artinya, nama ada tapi riil kelompok tersebut sebagai organisasi itu diperdebatkan,” kata Harits.

Legitimasi untuk Aparat

Jika PN Jakarta Selatan kelak memvonis JAD sebagai kelompok terlarang, Harits ragu akan ada gelombang aksi teror, meskipun tetap akan ada implikasi lain.

“Berpotensi makin mengkristalkan kebencian mereka terhadap rezim khususnya kepada aparat kepolisian,” ucapnya.

Di sisi yang lain, Harits melihat ada potensi pihak aparat bertindak lebih berani terhadap orang yang dianggap anggota atau simpatisan JAD. Misalnya, tembak mati. Menurut Harits, hal itu sangat mungkin terjadi karena aparat akan menggunakan dalih JAD telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang.

“Menjadi tambahan poin legitimasi untuk bertindak lebih represif terhadap semua anasir yang dianggap terkait dengan kelompok JAD,” kata Harits.

Menurut Harits, harus ada peningkatan profesionalisme aparat dalam menindak terorisme. Dia mengatakan regulasi yang baru, yakni UU Terorisme, mesti diimbangi dengan peningkatan profesionalisme penegak hukum.

Selain itu, perlu pula ada suatu lembaga yang mengontrol atau mengawasi aparat khusus dalam menangani tindak pidana terorisme. Menurutnya, itu merupakan salah satu langkah konkret demi mencegah tindakan represif aparat yang tidak terkontrol.

“Harus ada semacam lembaga yang punya peran kontrol monitoring agar semua on the track sesuai dengan amanah UU Terorisme,” ujar Harits. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Wadanpasmar 3 Terima Kunjungan Irjenal di Mako Pasmar 3

Metrobatam.com, Sorong - Wakil Komandan Pasmar 3 Kolonel Marinir Soeharijadi terima kunjungan Inspektur Jenderal Dan Perbendaharaan Angkatan Laut (Irjenal) Laksda TNI Djoko Erwan P,...

BKN Tetapkan 5 Lokasi Tes CPNS di Wilayah Provinsi Kepri

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Badan Kepegawaian Negara (BKN) menetapkan 5 lokasi sebagai tempat tes CPNS tahun 2018 di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. "Penetapan kelima lokasi...

Kapolres Karimun Beri Penghargaan 19 Personel Polres

Metrobatam.com, Karimun, Kepri - Kapolres Karimun AKBP Hengky Pramudya memberikan penghargaan kepada 19 personel Polres karena dinilai telah berhasil mengungkap sejumlah kasus criminal, mulai...

Naik 8%, Ini Perkiraan UMP 2019 di 34 Provinsi

Metrobatam, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri menetapkan upah minimum provinsi (UMP) 2019 naik 8,03%. Kenaikan UMP di setiap provinsi akan diumumkan serentak...

Prabowo ‘The Winter Soldier’, PKB: Mana Laku, Indonesia Tak Bersalju

Metrobatam, Jakarta - PKB mengatakan capres Prabowo Subianto yang didoakan seperti 'The Winter Soldier' tak akan laku di Indonesia. Alasannya, tak pernah ada salju...

Dapat Teguran Keras dari Jokowi, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan

Metrobatam, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi teguran keras pada BPJS Kesehatan karena dirinya harus mengurus langsung pembayaran utang rumah sakit dalam program...

F1QR Lantamal IV Kembali Tangkap Terduga Pelaku Pencurian di Kapal SL. Lay Vessel 108

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV melalui Unit I Kejahatan dan Kekerasan di Laut (Jatanrasla)...

Refleksi Hari Pangan Sedunia, Abdul Basyid Has Sebut Marwah Bangsa Indonesia

Metrobatam.com, Batam - Abdul Basyid Has, Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI periode 2018-2024 daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memberi catatan kritis terkait...

Tol Trans Jawa Ditargetkan Rampung Akhir November 2018

Metrobatam, Solo - Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani mengatakan ruas tol trans Jawa ditargetkan akan selesai pembangunan fisik akhir November 2018. Diharapkan akhir...

Tabloid Bola Tutup, Netizen Kenang Saat Bokek hingga Taruhan

Metrobatam, Jakarta - Warganet mencuitkan kesedihan mereka terkait dengan rencana penutupan Tabloid Bola pekan depan. #TerimaKasihTabloidBola pun menjadi cuitan yang banyak diperbincangkan di media...

Miris, Bocah 7 Tahun Pengungsi Gempa Palu Dicabuli 3 Pemuda, Ini Kronologisnya

Metrobatam, Makassar - Pencabulan anak di bawah umur menimpa, HS (7), bocah perempuan yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Miris,...

Kevin/Marcus Tambah Wakil Indonesia di Babak Kedua

Metrobatam, Jakarta - Wakil Indonesia di babak kedua Denmark Terbuka 2018 bertambah. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menambahnya dari nomor ganda putra. Kevin/Marcus mengalahkan pasangan...
SHARE